S E L A M A T D A T A N G

Minggu, 19 Desember 2010

PERPUSTAKAAN


KATA  PENGANTAR


Penulisan jurnal atau makalah ini untuk memenuhi tugas. Selain itu maksud penulisan ini untuk mengetahui pengertian Libraby atau perpustakaan , fungsi perpustakaan dan tata cara atau tehnik pengelolaan perpustakaan, termasuk di dalamnya mengenal dan memahami klasifikasi serta katalogisasi library atau perpustakaan.
Di dalam penulisan ini masih sangat sederhana, namun demikian penulis berharap mudah – mudahan penulisan ini bermanfaat bagi para pembacanya.
Cukup sekian kata pengantar dari penulis dan penulis harapkan adanya kritik serta saran dari pembacanya.


Penulis



DAFTAR  ISI

Halaman Judul …………………………………………………………
Kata Pengantar ………………………………………………………..
Daftar  Isi …………………………………………………………………
Pendahuluan ……………………………………………………………
Pembahasan ……………………………………………………………..
Mengenal  dan Memahami Klasifikasi Serta Katalogisasi Library / Perpustakaan ………………………………………………………………….
Garis Besar Kegiatan Pengkatalogan …………………………………………
Beberapa Istilah ………………………………………………………………
Analisis Subyek ………………………………………………………………
Jenis Konsep ………………………………………………………………….
Jenis Subyek ………………………………………………………………….
Langkah – langkah Praktis Analisis Subyek …………………………………
Sekilas Mengenal Dewey Decimal Classification ( DDC ) …………………..
Beberapa Contoh Katalog Kartu ……………………………………………...
Penutup……………………………………………………………………
Kesimpulan …………………………………………………………………..
Saran …………………………………………………………………………
Daftar  Pustaka ……………………………………………………….
i
ii
iii
1
3

4
5
6
9
9
11
12
13
30
34
34
34
35




 
PENDAHULUAN


Kita semua menyadari bahwa kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya. Demikian pula dalam upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas tinggi tidak bisa lepas dari pendidikan. Kegiatan memajukan pendidikan di Indonesia telah dilakukan antara lain melalui peningkatan pendidikan yang diwujudkan dalam Undang – undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal 1 menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Salah satu sarana dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah dewasa ini bukan hanya merupakan unit kerja yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi murid, tapi juga merupakan bagian yang integral pembelajaran. Artinya, penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan mengadakan bahan bacaan bermutu yang sesuai kurikulum, menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang studi, dan kegiatan penunjang lain, misalnya berkaitan dengan peristiwa penting yang menjadi kegiatan sekolah.
Dengan membanjirinya informasi dalam skala global, perpustakaan sekolah diharapkan tidak hanya menyediakan buku bacaan saja namun juga perlu menyediakan sumber informasi lainnya, seperti bahan audio-visual dan multimedia, serta akses informasi ke internet. Akses ke internet ini diperlukan untuk menambah dan melengkapi pengetahuan anak dari sumber lain  Menyikapi hal ini pustakawan sekolah dan guru perlu mengajarkan kepada murid untuk dapat mengenali jenis informasi apa saja yang diperlukan dan menelusurinya melalui sumber informasi tersebut di atas. Untuk itu diperlukan program pengetahuan tentang literasi informasi di sekolah. Dengan mengikuti program semacam itu murid diarahkan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah melalui informasi yang diperolehnya. Kemampuan ini juga kelak akan bermanfaat di kemudian hari dalam meniti perjalanan kariernya ( Umar Tirtarahardja , 2000 : 138 )

Sejalan dengan keinginan untuk mewujudkan sebuah perpustakaan sekolah sebagaimana disebutkan di atas, tentu harus ada kerja sama dan sinergi, termasuk apresiasi, terhadap perpustakaan di antara para pustakawan sekolah guru, kepala sekolah serta kimote sekolah. Dalam menjembatani upaya ini International Federation of Library Association ( IFLA ), sebuah asosiasi perpustakaan tingkat dunia, telah menyusun sebuah panduan untuk digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengembangan perpustakaan sekolah, termasuk di dalamnya lembaga pemerintah dan swasta, Kementerian, perushaan, LSM dan pemerhati pendidikan.
Perpustakaan nasional RI dan Departemen Pendidikan Nasional merupakan lembaga pemerintah di negeri ini yang berkepentingan dalam pengembangan perpustakaan sekolah di Indonesia. Selain itu tentunya perpustakaan nasional RI telah memotivasi untuk berdirinya dan menyelenggarakannya perpustakaan umum di berbagai daerah di Indonesia.



 
PEMBAHASAN


Pengertian Library
Ditinjau dari arti katanya Library berarti perpustakaan  ( E.Pino, 1990 : 232 ) sedangkan menurut Wiki :
The first libraries were composed for the most park, of published records, a particular type of library called archives. Perpustakaan pertama di dirikan untuk sebagian besar, dari penerbitan catatan, jenis tertentu perpustakaan yang disebut arsip ( Wiki, 2010 : 2 )
The international organization for standardization ( ISO ) has published several standards regarding the management of libraries through its technical eommittee, which is focused on libraries, documentation and information centers, publishing, archives, records management, museum documentation, indexing and abstracting, services , and information science “ para organisasi internasional untuk strandarisasi (ISo) telah menerbitkan beberapa standart mengenai pengelolaan perpustakaan melalui panitia teknis yang difokuskan pada “ Perpustakaan “ pusat dokumentasi dan informasi, penerbitan, arsip manajemen arsip, dikumentasi museum, indeks dan jasa abstrak, hardware dan software serta ilmu informasi       ( Wiki ; 2010 : 16 ).
Sehingga dapat dinyatakan bahwa library merupakan suatu perpustakaan yang mempunyai fungsi antara lain mengadakan ,menggandakan, mengelola, menyediakan dan menyebarkan informasi melalui hardware maupun software atau melalui perangkat keras dan perangkat lunak. 




 
Mengenal dan Memahami Klasifikasi Serta Katalogisasi Library / Perpustakaan
Fungsi utama setiap perpustakaan adalah mengadakan, mengolah, menyediakan dan menyebarkan informasi kepada para pemakai. Untuk melaksanakan fungsi tersebut maka perpustakaan harus mengolah dan mengatur koleksinya sedemikian rupa sehingga informasi yang terdapat dalam koleksinya dapat disimpan dan ditemukan kembali secara mudah, cepat dan tepat jika diperlukan. Dengan kata lain, di dalam perpustakaan diperlukan suatu system temu kembali informasi ( information retrieval system ) yang baik.
Kerangka kerja perpustakaan yang berfokus pada proses pengorganisasian informasi di satu pihak dan pencarian kembali informasi di pihak lain, digambarkan oleh Lauren B Doyle dalam diagram berikut ini :
MASUKAN
Pencatatan ciri dan penataan
KELUARAN
Pencocokan dan Penyerahan Koleksi 

Masukan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan, yaitu semua, bahan pustaka atau rekaman informasi diorganisasir, dioleh, dikatalog, diklasifikasi (analisis) yang menghasilkan susunan bahan pustaka di rak ( susunan koleksi) dan wakil ringkas bahan pustaka yang berupa catalog,bilbiografi, indek, dll. Sedangkan keluaran adalah kegiatan temu kembali informasi oleh pemakai perpustakaan. Dalam temu kembali informasi di perpustakaan, pemakai dapat menempuh dua cara, yaitu langsung menuju ke susunan koleksi di rak atau melalui system catalog baru menuju ke rak. Cara pertama biasanya dilakukan apabila pemakai telah mengetahui betul lokasi buku yang ia cari. Sedangkan cara kedua biasanya dilakukan apabila pemakai belum mengetahui letak informasi yang ia perlukan, atau ia telah mengetahuinya namun ingin melengkapi dengan sumber – sumber informasi lain.

 
Istilah temu kembali informasi di perpustakaan pada umumnya mengandung arti temu kembali bahan pustaka. Bahan pustaka disini mencakup semua jenis bahan pustaka, baik yang tercetak seperti buku dan majalah, atau yang tidak tercetak seperti CD-ROM (Compact Disk Read Only Memory), kaset dan sebagainya. Jadi temu kembali informasi pada dasarnya adalah penemuan kembali bahan pustaka dari koleksi tertentu yang relevan dengan permintaan.



GARIS BESAR KEGIATAN PENGKATALOGAN
Kegiatan pengatalogan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kegiatan : 1 ). Pengatalogan deskriptif, yang bertumpu pada fisik bahan pustaka (judul, pengarang, jumlah halaman, dll ), kegiatanya berupa membuat deskripsi bibliografi , menentukan tajuk entri utama dan tambahan, dan 2 ). Pengindeksan subyek, yang berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topic yang dibahas), mengadakan analaisis subyek dan menentukan notasi klasifikasi, pedomannya antara lain bagan klasifikasi, daftar tajuk subyek dan terurus, kedua kegiatan ini menghasilkan cantuman bibliografi atau sering disebut catalog yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka.





 





BEBERAPA  ISTILAH
Sebelum membahas klasifikasi dan katalogisasi , beberapa istilah di bawah ini perlu untuk dikenali terlebih dahulu:
Bahan Pustaka, Dokumen : Segala sesuatu yang menyimpan dan membawa informasi, paket informasi yang diadakan dan disimpan di perpustakaan. Bahan pustaka tidak hanya berupa teks atau bahan tercetak, seperti buku, jurnal, tetapi meliputi bahan non-cetak, seperti : gambar, peta, CD-ROM, VCD, berkas computer dan sebagainya.

Katalogisasi ( Cataloging ) : Kegiatan atau proses pembuatan wakil ringkas dari bahan pustaka atau dokumen (buku, majalah, CD-ROM, microfilm, dll). Istilah ini kadang – kadang juga meliputi klasifikasi bahan pustaka dan secara umum menyimpan bahan pustaka untuk digunakan pemakai. Kadang – kadang disebut juga dengan istilah pengindeksan (indexing).
Catalog ( Catalog ) : Presentasi ciri – ciri dari bahan pustaka atau dokumen (misalnya : judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek, dll ) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut yang disusun secara sistematis.
Klasifikasi ( Classification ) : Penyusunan sesuatu dalam susunan yang logis sesuai dengan tingkat kemiripan atau kesamaanya.
Tajuk ( Heading ) : Urutan karkater (huruf, angka, dll) pada permulaan catalog, karakter ini menentukan letak atau urutan dalam berkas (missal laci). Tajuk biasanya berupa nama pengarang, istilah subyek,judul atau notasi atau nomor klasifikasi yang diambil dari sebuah bagan klasifikasi.
Entri (entry ) : Cantuman bahan pustaka atau dokumen dalam sebuah catalog
Entri Utama (main entry) : Cantum katalog lengkap dari sebuah bahan pustaka, yang berisi deskripsi lengkap dan disertai dengan jejakan atau indikasi tajuk – tajuk untuk entri – entri lainnya.
Entri tambahan ( added entry ) : Entri katalog sekunder, cantumannya lebih ringkas dari entri utama ( tidak disertai dengan jejakan )

KLASIFIKASI
Pengertian , Fungsi dan Tujuan
Sebelum suatu bahan pustaka yang relevan dapat ditemukan kembali harus diadakan penelusuran (search) terlebih dahulu di dalam “ gudang “ informasi yang disebut perpustakaan. Tentunya tidak praktis jika seluruh koleksi perpustakaan ditelusuri satu per satu. Prinsip dasar dalam temu kembali informasi adalah bahwa penelusuran untuk suatu bahan pustaka dilakukan pada sebagian koleksi itu, yakni pada bagian yang secara potensial paling relevan untuk memenuhi suatu permintaan. Bagian dari koleksi bahan pustaka itu disebut kelas,.
Kelas dalam batasan umum adalah suatu kelompok benda yang memiliki beberapa ciri yang sama. Terompet, seruling, saxophone, harmonica umpamanya, merupakan instrument musik yang mengeluarkan suara dengan ditiup. Suara yang keluar melalui medium itu merupakan satu ciri instrument tersebut, sehingga instrument –instrumen itu dapat dimasukkan dalam satu kelas yang disebut instrument musik tiup. Dalam temu kembali informasi yang disebut kelas adalah sekelompok bahan pustaka yang paling sedikit mempunyai satu ciri yang sama. Kegiatan pengelompokkan atau pembentukan kelas disebut klasifikasi.
Satu bahan pustaka dapat memiliki beberapa ciri, umpamanya  ciri kepengarangan, ciri subyek, ciri fisik dan ciri – ciri lainnya. Oleh karena itu satu bahan pustaka dapat dikelompokkan menurut setiap ciri yang ada pada bahan pustaka itu. Perpustakaan pada hakekatnya mengumpulkan bahan pustaka karena informasinya (subyeknya). Pengelompokan berdasarkan ciri subyek ini di perpustakaan disebut klasifikasi fundamental. Sedang pengelompokan menurut ciri lainnya disebut klasifikasi. Artificial misalnya pengelompokkan menurut pengarang , atau menurut ukuran fisik.
Klasifikasi yang diterapkan di pusat informasi dan perpustakaan didefinisikan sebagai penyusunan sistematik terhadap buku dan bahan pustaka lain atau catalog atau entri indeks berdasarkan subyek, dalam cara paling berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi. Dengan demikian, klasifikasi berfungsi ganda, yaitu (1) sebagai sarana penyusunan bahan pustaka di rak , dan (2) sebagai sarana penyusunan entri bibliografi dalam catalog tercetak, bibliografi dan indeks dalam tata susunan sistematis.
Sebagai sarana pengaturan bahan pustakadi rak, kalsifikasi mempunyai dua tujuan yaitu (1) membantu pemakai mengindentikkan dan melokalisasi sebuah bahan pustaka berdasarkan nomor panggil, dan (2) mengelompokkan semua bahan pustaka sejenis menjadi satu. Dengan kata lain, tujuan utama klasifikasi di perpustakaan adalah mempermudah dalam temu kembali informasi (bahan pustaka) yang dimiliki perpustakaan.


Analisis  Subyek
Disadari atau tidak sebelum melakukan klasifikasi telah terjadi atau seharusnya terjadi suatu kegiatan yang disebut “ Analisis  Subyek “. Kegiatan analisis subyek ini merupakan kegiatan yang sangat penting dan memerlukan kemampuan intelektual, karena di sinilah ditentukan pada subyek apa suatu bahan pustaka ditempatkan atau menetapkan isi bahan pustaka. Oleh karena itu analisis ini harus dikerjakan secara akurat dan konsisten.
Dalam menentukan isi bahan pustaka, pustakawan harus mengetahui mengenai apa bahan pustaka itu. Setidak – tidaknya seorang pustakawan harus mengetahui hal itu secara umum. Dalam akitivitasnya pustakawan berurusan dengan dunia pengetahuan (universe of knowledge). Meskipun demikian, seorang pustakawan tidak ahrus seorang pakar (expert) atau ahli dalam suatu bidang pengetahuan. Namun yang perlu dimiliki oleh seorang pustakawan adalah pengetahuan mengenai sifat, struktur, dan hubungan yang terdapat di antara bidang – bidang pengetahuan.
Untuk melaksanakan kegiatan analisis subyek ini ada dua hal yang perlu dikenali atau dipahami tentang suatu bahan pustaka, yaitu “ jenis Konsep “ dan      “ jenis Subyek “. Dengan  mengenai jenis konsep dan jenis subyek tersebut akan membantu dalam menetapkan pada atau dalam subyek apa suatu bahan pustaka. Berikut akan dibahas tentang jenis konsep dan jenis subyek.

Jenis Konsep
Dalam suatu bahan pustaka dapat dibedakan tiga jenis konsep yaitu :
1.      Disiplin Ilmu, Yaitu istilah yang digunakan untuk satu bidang atau cabang ilmu pengetahuan. Hokum, sosiologi, filsafat umpamanya, adalah disiplin – disiplin yang merupakan bidang atau cabang pengetahuan. Disiplin ilmu dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu :
a.       Disiplin Fundamental, meliputi bagian – bagian utama ilmu pengetahuan. Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan disiplin fundamental ini.namun demikian, ada tiga kelompok disiplin fundamental yang diakui dewasa ini oleh banyak ahli, yaitu : (1) ilmu – ilmu social (social sciences), (2) ilmu – ilmu alamiah (natural sciences) dan (3Z) ilmu – ilmu kemanusiaan (humanities)
b.     

 
Subdisiplin , merupakan bidang spesialisasi dalam satu disiplin fundamental. Misalnya biologi, kimia, fisika adalah subdisiplin dari disiplin fundamental ilmu – ilmu alamiah.
2.      Fenomena , yaitu “ benda “ atau “ wujud “ yang dikaji dalam suatu disiplin ilmu. Misalnya Psikologi Remaja, terdapat dua konsep yaitu “ Psikologi “ dan “ Remaja “ yang menjadi obyek kajian disiplin tersebut. Obyek atau sasaran yang menjadi fenomena dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.       Obyek konkrit, misalnya : remaja , padi, kendaraan
b.      Obyek abstrak, seperti : hokum , moral, cinta
3.      Bentuk , ialah cara bagaimana suatu subyek disajikan. Konsep bentuk dibedakan menjadi tiga , yaitu :
a)      Bentuk Fisik , yakni medium atau sarana yang digunakan dalam menyajikan suatu subyek, misalnya dalam bentuk buku, majalah, kaset, CD-ROM , disket dan sebagainya. Bentuk fisik tidak mempengaruhi isi bahan pustaka
b)      Bentuk Penyajian , yaitu menunjukkan pengaturan atau organisasi isi bahan pustaka. Ada tiga macam bentuk penyajian :
1)      Yang menggunakan lambing – lambing dalam penyajiannya, seperti bahasa (dalam bahasa Jawa, Arab, dsb), gambar (peta, karikatur, dsb);
2)      Yang memperlihatkan tata susunan tertentu. Misalnya abjad, kronologis dan sebagainya ;
3)      Yang penyajiannya untuk kelompok tertentu. Misalnya Bahasa Arab untuk pemula, Internet untuk pustakawan dan sebagainya. Kedua bahan pustaka tersebut adalah mengenai “ Bahasa Arab “ dan  “ Internet “ bukan tentang “ Pemula “ dan “ Pustakawan “
c)      Bentuk Intelektual , yaitu aspek yang ditekankan dalam pembahasan suatu subyek. Misalnya Filsafat Sejarah. Di sini yang menjadi subyek adalah “ Sejarah “, yang menjadi subyek adalah “ Filsafat “ sedang “ Sejarah “ adalah bentuk penyajian intelektualnya.
 
Jenis Subyek
Dalam kegiatan analisis subyek , adabermacam – macam jenis subyek bahan pustaka yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu:
1)            Subyek Dasar, yaitu subyek yang hanya terdiri atas satu disiplin atau subdisiplin ilmu saja. Misalnya : Pengantar Ilmu Hukum, yang menjadi subyek dasarnya adalah “ Hukum “.
2)            Subyek Sederhana, yaitu subyek yang hanya terdiri atas satu faset yang berasal dari satu subyek dasar. Misalnya : Agama di Indonesia , terdiri atas subyek dasar “ Agama” dan faset tempat “ Indonesia”. ( Faset ialah sekelompok fenomena yang dikaji oleh disiplin ilmu tertentu dan memiliki satu ciri bersama. Tiap bidang ilmu mempunyai faset – faset yang khas, dan anggota dari satu faset disebut focus. Sebagai contoh : dalam ilmu pendidikan dikenal adanya sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi, ini semua merupakan anggota dari faset lembaga pendidikan)
3)            Subyek Majemuk, ialah subyek yang terdiri atas subyek dasar disertai focus – focus dari dua faset atau lebih. Misalnya Hukum Perkawinan di Indonesia, di sini ada satu subyek dasar, yaitu “ Hukum “ dan dua faset, yaitu “ Hukum Perkawinan “ ( faset jenis ) dan Indonesia ( faset tempat )
4)            Subyek Kompleks, yaitu bila ada dua atau lebih subyek dasar yang berinteraksi antara satu sama lain. Misalnya : Pengaruh Filsafat terhadap Ilmu Kalam “, di sini terdapat dua subyek dasar, yaitu “ Filsafat “ dan “ Ilmu kalam “. Untuk menentukan subyek yang mana yang akan diutamakan dalam subyek kompleks ini perlu diketahui hubungan interaksi antara subyek tersebut, yang disebut dengan istilah fase. Dalam subyek komplek terdapat empat fase yaitu :
a.       Fase bias, yaitu suatu subyek yang disajikan untuk kelompok tertentu. Dalam hal subyek yang diutamakan adalah subyek yang disajikan. Misalnya Kompuer untuk Perpustakaan, subyek yang diutamakan adalah “Komputer”
b.      Fase pengaruh, yaitu bila dua atau lebih subyek dasar lasing mempengaruhi antara satu sama lain. Dal hal ini subyek yang diutamakan adalah subyek yang dipengaruhi. Misalnya : Pengaruh Kritis Ekonomi Terhadap Perceraian, di sini subyek yang diutamakan adalah    “ Perceraian “
c.       Fase alat, yaitu subyek digunakan sebagai alat untuk menjelaskan atau membahas subyek lain. Dalam hal ini subyek yang diutamakan adalah subyek yang dibahas atau dijelaskan. Misalnya : Penggunaan Analisis Statistik Terhadap Keberhasilan Program KB di Indonesia, disini yang diutamakan adalah “ KB “
d.      Fase perbandingan, yaitu dalam satu bahan pustaka terdapat berbagai subyek tanpa ada hubungan  antara satu dengan yang lain. Untuk menentukan subyek mana yang akan diutamakan ada beberapa pedoman:
1)      Pada subyek yang dibahas lebih banyak. Misalnya : Islam dan politik, jika “ Islam “ lebih banyak dibahas, maka diutamakan subyek “ Islam”.
2)      Pada subyek yang disebut pertama kali. Misalnya : Hukum Islam dan masyarakat Jawa, ditetapkan pada “ Hukum Islam “ karena disebut pertama kali
3)      Pada subyek yang erat kaitannya dengan jenis perpustakaan atau pemakai perpustakaan. Misalnya “ Hukum islam dan kedokteran, di perpustakaan Fakultas Hukum akan ditempatkan pada subyek “ Hukum “ dan bila di perpustakaan Fakultas Kedokteran akan ditempatkan pada subyek “ kedokteran “.

Langkah – langkah Praktis Analisis Subyek
Untuk mengetahui subyek suatu bahan pustaka dengan analisis subyek dapat mengikuti langkah – langkah  praktis berikut :
1.      Melalui Judul, seringkali dengan melihat, mempelajari dan memahami judulnya saja suatu bahan pustaka sudah dapat ditentukan subyeknya. Cara ini biasanya dapat diterapkan pada buku – buku imiah atau buku – buku teks.
2.      Melalui daftar isi, apabila melalui judul belum dapat diketahui subyeknya, maka adakalanya dengan melihat daftar isi subyek bahan pustaka tersebut dapat diketahui.
3.      Melalui daftar bahan pustaka atau bibliografi yang digunakan oleh pengarang untuk menyusun karya tersebut
4.      Dengan membaca kata pengantar atau pendahuluan. Kadang – kadang   di dalam pengantar atau pendahuluan, pengarang menyebutkan inti atau topic yang akan dibahas dan ruang lingkupnya
5.      Apabila melalui langkah – langkah di atas masih belum dapat membantu menetapkan subyek bahan pustaka , maka hendaklah dengan membaca sebagian atau keseluruhan dari isi karya tersebut
6.      Menggunakan sumber lain, seperti : Bibliografi, catalog, kamus, biografi, ensiklopedi, tinjauan buku dan sebagainya
7.      Seandainya setelah melalui cara – cara di atas masih belum juga dapat membantu menentukan subyek bahan pustaka, hendaknya menanyakan kepada orang yang ahli di bidang subyek tersebut (Subject specialist)

Sekilas Mengenal Dewey Decimal Classfication ( DDC )
Setelah  menganalisis subyek, langkah selanjutnya adalah menerjemahkan hasil analisis tersebut ke dalam bahasa indeks, yang dalam hal ini adalah menentukan nomor kelas atau notasi. Notasi adalah symbol atau kode yang digunakan bagi kelas atau subyek yang terdapat pada bagan klasifikasi. Notasi dapat berupa angka, huruf, atau gabungan angka dan huruf. Seperti telah disebutkan di atas bahwa salah satu fungsi klasifikasi adalah sebagai perangkat penyusunan bahan pustaka di rak, maka notasi inilah yang nantinya menentukan tempat bahan pustaka di rak, dengan dikombinasikan dengan unsur lain, notasi akan membentuk nomor panggil (call number).
Ada beberapa bagan klasifikasi yang dikenal di dunia perpustakaan dan informasi, antara lain : Dewey Decimal Classification (DDC), Library of Congress Classification (LC), Universal Decimal Classification (UDC) dan Colon Classification. Adapun dalam kesempatan ini akan dikenalkan Dewey Decimal Classification (selanjutnya disebut DDC saja)
 
Bagan kalsifikasi DDC ini merupakan bagan klasifikasi yang paling popular dan paling banyak digunakan, termasuk di Indonesia. Bagan ini diciptakan oleh Melvil Dewey judul A Classification and Subyek Index for Cataloging and Arranging the Books and Pamphlets of a Libranry. Setelah penerbitan edisi ke 16 tahun 1958 muncul kebijakan untuk merevisi bagan DDC ini setiap 7 tahun. Dan sekarang telah sampai pada edisi 21 yang terdiri atas 4 jilid tebal ; jilid 1 berisi table  subdivisi standar, jilid 2 bagan dari kelas 000-500, jilid 3 dari kelas 600-900, dan jilid 4 berisi indeks relative.
DDC merupakan bagan klasifikasi system hirarki yang menganut prinsip “ decimal” dalam membagi cabang ilmu pengetahuan. DDC membagi semua ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama (main classes) yang diberi notasi berupa angka Arab 000-900. setiap kelas utama dibagi secara decimal menjadi 10 subkelas (division). Kemudian subkelas dibagi lagi menjadi 10 seksi (section), dan seterusnya. Untuk  lebih   jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut :
Kelas Utama
000 – Karya umum
100 – Filsafat dan disiplin terkait
200 – Agama
300 – Ilmu - ilmu social
400 – Bahasa
500 – Ilmu - ilmu murni
600 – Ilmu -ilmu terapan
700 – Kesenian
800 – Sastra
900 – Geografi umum dan sejarah serta cabangnya

Divisi
300 – Ilmu - ilmu social
310 – Statistik
 
320 – Ilmu Politik
330 – Ilmu Ekonomi
340 – Hukum
350 – Administrasi Negara
360 – Problem dan Pelayanan Sosial
370 – Pendidikan
380 – Perdagangan
390 – Adat istiadat, etiket, cerita rakyat

Seksi
370 – Pendidikan
371 – Pendidikan secara umum
372 – Pendidikan dasar
373 – Pendidikan menengah
374 – Pendidikan dewasa
375 – Kurikulum
376 – Pendidikan wanita
377 – Sekolah dan agama
378 – Pendidikan tinggi
379 – Pendidikan dan Negara

Tiap tiap seksi di atas dapat dibagi lagi secara decimal apabila dikehendaki menjadi bagian lebih spedifik, misalnya :
371    - Pendidikan secara umum
371.1 – Pengajaran dan pengajar
371.2 – Administrasi pendidikan
371.3 – Metode mengajar dan belajar
371.4 -  Bimbingan dan penyuluhan
371.5 – Disiplin sekolah
371.6 – Sarana fisik
371.7 – Kesehatan dan keselamatan sekolah
 
371.8 – Siswa
371.9 – Pendidikan khusus

Dari contoh diatas dapat dipahami bahwa khusus suatu subyek, semakin panjang notasinya karena banyak angka yang ditambahkan pada notasi dasarnya. Pembagian ini bersifat hirarkis, dari umum ke khusus, misalnya :
300 – Ilmu-ilmu social
     320 – Ilmu politik
            324 – Proses politik
                  324.2 – Partai politik
                          324.23 – Program dan ideology

Tabel – tabel
Di samping pembagian kelas secara decimal dengan notasi yang terdapat dalam bagan, DDC juga menyediakan  tabel – tabel pembantu untuk membagi subyek lebih lanjut. Notasi pada tabel – tabel tidak dapat berdiri sendiri, melainkan hanya dapat digunakan dalam rangkaian dengan notasi yang terdapat dalam bagan. Dalam DDC edisi 21 terdapat 7 tabel pembantu, yaitu :
Tabel 1 : Subdivisi standar
Tabel 2 : Wilayah
Tabel 3 : Subdivisi sastra
Tabel 4 : Subdivisi bahasa
Tabel 5 : Ras, etnik, kebangsaan
Tabel 6 : Bahasa
Tabel 7 : Orang
            Untuk menambahkan notasi dari tabel – tabel tersebut harus mengikuti pedoman yang di tabel dan pada bagan klasifikasi.


Indeks Relatif
Untuk membantu mencari notasi suatu subyek dalam DDC terdapat “ Indeks Relatif “. Di dalam indeks ini terdaftar sejumlah istilah yang disusun menurut abjad. Istilah-istilah tersebut mengacu ke notasi yang terdapat di dalam bagan. Di dalam indeks relative ini didaftar sinonim untuk suatu istilah, hubungan – hubungan dengan subyek lain. Contoh indeks relative dari bagan klasifikasi Islam:
Hokum (Islam)
Acara Banding                          2 X4.66
Berita Acara Pemeriksaan                     2X4.61
Hakim                                                  2X4.65
Internasional                                         2X4.7
            Diplomasi                                 2X4.72
Kesaksian dan Barang Bukti                 2X4.63
Ketatanegaraan                                    2X4.71
Pembelaan                                            2X4.64
Penyelidikan                                         2X4.61
Peradilan (qada)                                   2X4.6
Perang dan perdamaian                         2X4.76
            Gencatan Senjata                      2X4.761
            Rampasan                                2X4.762
Dst.
Untuk menentukan nomor kelas, tidak cukup dengan hanya melihat dari indeks, tetapi harus dilihat di bagan lengkapnya.

Subyek Islam
Perlu diketahui bahwa subyek agama Islam atau ilmu-ilmu keislaman di dalam DDC hanya mendapat “ Jatah “ notasi 297 (dengan semua rinciannya). Oleh para ahli (terutama dari kalangan islam) “ Jatah  “ ini dianggap kurang memberi  tempat yang wajar. Hal ini mendorong para ahli untuk memperluas DDC seksi Islam dengan tetap  mengacu pada prinsip – prinsip DDC. Setelah melalui penelitian dan berbagai pertemuan ilmiah, akhirnya dapat disusun klasifikasi Islam yang dinilai lebih representative dengan mengganti 297 menjadi 2x. kalsifikasi yang diberi judul Adaptasi dan Perluasan Dewey Decimal Classifition (DDC) Seksi Islam tersebut pada  tahun 1987 diformalkan penggunannya melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 157 tahun 1987. kemudian pada tahun 1999 telah terbit edisi revisi yang dilengkapi dengan daftar tajuk subyek Islam dengan judul : Daftar Tajuk Subyek Islam dan system Klasifikasi Islam “ Adapatasi dan Perluasan DDC Seksi Islam, yang disunting oleh Drs. Muh. Kailani Er

 
Adapun untuk menentukan nomor kelas atau notasi suatu bahan pustaka (buku) dapat ditempuh emlalui dua cara, Pertama , melalui indeks relative, dan kedua langsung melihat bagan DDC
Cara pertama melalui indeks relatif, prosedur yang ditempuh adalah sebagai berikut :
1.      Tentukan lebih dulu  subyek dan aspek dari bahan pustaka yang akan diberi nomor kelas dengan cara menganalisis subyeknya, seperti uraian di atas
2.      Temukan subyek tersebut dalam indeks relatif. Mislanya hasil analisis subyek menyimpulkan bahan pustaka tersebut berisi tentang Hukum Waris, maka cari kata tersebut di dalam indeks relatif dan akan terlihat :
Hukum Waris ( Faraid )                  2 x 4.4
3.      Teliti dan cermati tajul tersebut untuk mengetahui aspek apa yang dibahas dalam bahan pustaka ;
4.      Setelah ditemukan secra tepat dianjurkan tidak langsung menetapkan notasi dari indeks, melainkan periksalah bagan lengkap, sehingga diketahui  tepat tidaknya nomor kelas yang diberikan di dalam indeks relative ;
5.      Perhatikan apa tajuk di belakang nomor kelas itu, barangkalai ada penjelasan atau catatan yang dapat membantu meyakinkan tepat tidaknya nomor kelas itu . kalau tepat, maka nomor kelas itulah yang digunakan. Jika tidak maka harus dicari pada tajuk lain dengan cara yang sama sampai ditemukan nomor kelas yang paling tepat.



 
Apabila penentuan nomor kelas dilakukan dengan cara kedua, yaitu melihat langsung pada bagan, maka prosedurnya adalah sebagai berikut :
1.      Tentukan lebih dulu subyek dan aspek dari bahan pustaka yang akan diberi nomor kelas dengan cara menganalisis subyeknya seperti uraian diatas ;
2.      Periksa deretan nomor kelas di bawah disiplin ilmu yang bersangkutan hingga menemukan nomor kelas yang tepat untuk subyek yang dibahas dalam bahan pustaka ;
3.      Pada langkah di atas perhatikan semua catatan , petunjuk atau instruksi yang memberikan alternative penentuan nomor kelas yang lebib tepat

KATALOGISASI
Seperti dikemukankan di atas, katalogisasi merupakan proses kegiatan pembuatan kalatog. Catalog adalah daftar bahan pustaka yang  dikoleksi oleh perpustakaan tertentu, yang merupakan wakil bahan pustaka  tersebut  dan disusun secara sistematis (berabjad, berkelas). Adapun fungsinya , seperti dikemukankan oleh Charles Ammi Cutter, adalah 1) memungkinkan seseorang menemukan sebuah bahan pustaka yang diketahui berdasarkan pengarang, judul atau subyeknya ; 2) menunjukkan bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu, dalam subyek tertentu, atau dalam bentuk literature tertentu, dan 3) membantu memilih bahan pustaka berdasarkan edisinya atau karakternya.

Deskripsi  Bibliografi
Pedoman untuk kegiatan deskripsi bibliografi ini adalah AACR2 (anglo American Cataloguing Rules Edisi 2), yang mengadopsi ISBD (Iternational Standard Bibliographic Description) atau sudah disadur oleh Perpustakaan Nasional RI dalam bentuk Pedoman Katalogisasi Indonesia. Dalam buku pedoman tersebut pembuatan deskripsi bibliografis bahan pustaka dibagi ke dalam 8 daerah atau bidang. Kedelapan daerah deskripsi lengkap dengan tanda baca yang digunakan dapat dilihat sebagai berikut :
1.      Daerah judul dan pernyataan tanggung jawab ( kepengarangan ) :
Judul

 
( ) GMD (General Material Designation)
= judul parallel                    [ spt. judul yang ditulis dalam bahasa lain ]
: pernyataan judul lain          [ spt. anak judul ]
/ pengarang pertama,          [ jika pengarang lebih dari 1, tapi tidak lebih dari 3]
, pengarang ke-2, ke-3       [ jika pengarang lebih dari 1, tapi tidak lebih dari 3]
; pengarang lain                   [ spt penerjemah, illustrator, narrator ]
2.      Daerah edisi :
keterangan edisi                  [ spt cetakan ke berapa , dengan angka Arab ]
/ penanggung jawab edisi    [ jika beda dengan pengarang ]
3.      Daerah rincian khusus ( untuk buku tidak digunakan )
4.      Daerah penerbitan atau tipe terbitan (dulu disebut impresum )
tempat terbit                       [ kota terbit atau Negara,diambil yang ke-1 jika > 1]
: nama penerbit
< tahun terbit                      [ yang terakhir ]
5.      Daerah keterangan fisik ( kolasi )
jumlah halaman
: ilustrasi                             [ gambar, foto ]
; dimensi                             [ dalam cm ]
+ bahan penyerta                [ spt jika ada kaset, Cd, disket,dll ]
6.      Daerah judul seri :  
( judul seri
: keterangan sub seri
; nomor seri )         
7.      Daerah catatan
sesuai dengan keperluan, spt. judul asli, bibliografi, indeks, dll 
8.      Daerah ISBN ( International Standart Book Number ) dan harga ISBN
: harga

Untuk tiap daerah di atas, ditentukan sumber tertentu sebagai sumber informasi yang menjadi dasar pembuatan entri catalog, informasi yang diambil dari luar sumber primer ini dicantumkan dalam kurung siku ( [ ] ). Adapun sumber informasi primer untuk masing – masing daerah adalah sebagai berikut :

 
DAERAH
SUMBER INFORMASI PRIMER
Judul dan kepengarangan
Halaman judul
Edisi
Halaman judul, halaman permulaan lainnya, dan kolofon
Rincian Khusus
(tidak digunakan untuk koleksi buku)
Penerbitan (Impresum)
Halaman judul,halaman permulaan lainnya, dan kolofon
Deskripsi fisik (kolasi)
Buku itu sendiri
Judul seri
Halaman judul seri, halaman judul, sampul, sisa halaman buku lainnya
Catatan
Dari mana saja
ISBN dan Harga
Dari mana saja

Dalam pengetikan pada catalog setiap daerah dalam satu paragraph dipisahkan dengan tanda titik, spasi, dua hyphen, spasi ( . -- ). Jika pedoman tersebut diterapkan dalam pengetikan catalog kartu adalah sebagai berikut :
    Judul = judul parallel : anak judul / pengarang ;
Penerjemah. – Edisi. – Rincian khusus (tipe terbitan ).
-- tempat terbit : nama penerbit, tahun terbit .
hlm.: ill.; dimensi + bahan penyerta. – (judul seri
:  sub seri ; no. seri ).
   Catatan
   ISBN : harga
Singkatan – singkatan standar yang sering dipakai dalam deskripsi bibliografi adalah :

1.     Daerah  1

2.     Daerah  2

3.     Daerah  3


4.     Daerah  4
:

:

:


:
et.al )et ahli, artinya and others, jika pengarang lebih dari 3)

ed. (edition)
    cet. (cetakan)
22
 
s.l. (sine loco, artinya tempat terbit tidak diketahui )
     s.n  (sine nominee, artinya nama penerbit tidak diketahui
     s.a  (sine anno, artinya tahun terbit tidak diketahui )
vol. (volume, jika berjilid)
     jil. (jilid, jika memakai bahasa Indonesia)
     ill  (illustration, jika ada gambar, foto)
     cm (centimeter, ukuran tinggi buku)

Penentuan Tajuk Entri Utama dan Entri Tambahan
Di bawah ini ada beberapa ketentuan untuk menentukan tajuk entri utama dan entri tambahan bagi sebuah buku atau bahan pustaka :
1.      Karya pengarang tunggal
Karya pengarang tunggal adalah karya yang disusun atau dikarang oleh seorang pengarang. Tajuk entri utama untuk jenis karya ini adalah pada pengarang
Contoh :
Pintu-pintu Menuju Tuhan / oleh Nurcholish Madjid. Tajuk entri utama pada Nurcholish Madjid sebagai pengarang, entri tambahan pada judul dan subyek.

2.      Karya pengarang ganda
Yaitu karya oleh dua orang atau lebih, yang bersama – sama menciptakan suatu karya. Karya pengarang ganda ini dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a.       Karya pengarang ganda dengan pengarang utama
Bila suatu karya dikarang oleh dua orang pengarang atau lebih dan seorang diantaranya merupakan pengarang utama, sedangkan yang lain bertindak sebagai pembantu, tajuk entri utama ditentukan pada pengarang utama. Entri tambahan dibuat untuk pengarang pembantu yang pertama yang kali disebut, judul dan subyek

Contoh :

 
Tajuk Subyek untuk Perpustakaan / disusun oleh J.N.B Tairas dibantu oleh Rojani, Taslimah, Kailani Eryono. Tajuk entri utama pada J.N.B Tairas, entri tambahan pada Rojani, judul dan subyek
b.      Karya oleh tiga pengarang
Bila suatu karya dikarang oleh sebanyak-banyaknya tiga pengarang tanpa ada pengarang utama, maka tajuk entri utama ditentukan pada pengarang yang namanya disebut pertama kali pada halaman judul. Entri tambahan dibuat dari dua pengarang lainnya, judul dan subyek
Contoh :
Kematian Lady Diana Mengguncang Akidah Umat / oleh Ustadz Hartono A. Jais Ainul Haris Umar Thayib dan Al-Chaidar. Tajuk entri utama pada Ustadz Hartono A. Jais, entri tambahan pada Ainul Haris Umar Thayib dan Al-Chaidar, judul dan subyek
c.       Karya oleh lebih dari tiga orang
Bila suatu karya dikarang oleh lebih dari tiga orang tanpa ada pengarang utamanya, maka tajuk entri utama ditentukan pada judul, sedang entri tambahan dibuat pada nama pengarang yang pertama kali disebut dan pada subyek.
Contoh :
Sejarah Minangkabau / oleh M.D Mansoer, Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I Buchari, tajuk entri utamanya pada judul ( Sejarah Minangkabau), sedang entri tambahan pada M.D Mansoer (pengarang yang disebut pertama) dan pada subyek.
3.      Karya Kumpulan
Bila suatu karya merupakan karya kumpulan oleh lebih dari tiga orang dan di bawah pimpinan seorang editor atau penyunting serta ada judul kolektifnya, maka tajuk entri utama pada judul kolektif, sedang entri tambahan pada editor atau penyunting dan subyek.


Contoh:

 
The Oxford Encylopedia of the Islamic Word / Editor in chief , John L Espasito, tajuk entri utamanya pada judul (The Oxford … ). Sedang entri tambahan pada John L Esposito (editor), dan subyek
Agenda Aksi Liberalisasi Ekonomi dan Politik di Indonesia / Kumpulan tulisan 18 orang ( Rizal Ramli, Anggito Abimanyu, Hamzah Haz, Dawan Rahardjo … dkk, ketua tim editor, Kumala Hadi, tajuk entri utama pada judul (Agenda aksi …), entri tambahan pada Kumala hadi (editor) dan pada subyek.
4.      Karya Campuran
Bila ada beberapa pengarang telah menyumbangkan isi kecendekian pada suatu karya dengan fungsi yang berbeda – beda (penerjemah, penyadur, penggubah, dll), maka sifat kepengarangannya adalah campuran. Penentuan tajuk entri utama tergantung pada peranan pengarang dalam karya itu :
a.       Terjemahan
Bila merupakan karya terjemahan, maka tajuk entri utamanya ditentukan pada pengarang asli, entri tambahan dibuat pada penerjemah, judul dan subyek
Contoh :
Pergaulan Mencari Islam : Perjalanan Religius Toger Geraudy / oleh Muhsin al-Mayli, diterjemahkan oleh, Rifyal Ka’bah, tajuk entri utama pada Muhsin Al-Mayli (pengarang asli), sedang entri tambahan pada Rifyal Kab’bah (penerjemah), judul dan subyek.
b.      Saduran
Bila merupakan karya saduran (ringkasan, uraian), maka tajuk entri utama bukan pada pengarang asli, tetapi pada penyadur, sedang entri tambahan pada pengarang asli, judul dan subyek
Contoh :
Sahih Muslim Li Syarh al-Nawawi / oleh Imam Nawawi, tajuk entri utama pada Imam Nawawi (pembuat sya’ah),sedang entri tambahan pada Imam Muslim (pengarang asli Sahih Muslin), judul dan subyek

5.      Karya Anonim

 
Yaitu karya yang tidak diketahui pengarangnya atau nama pengarangnya tidak jelas. Jenis karya ini tajuk entri utamanya ditetapkan pada judul
6.      Karya Badan Korporasi
Badan koorporasi adalah suatu organisasi atau kumpulan orang – orang yang dikenal dengan nama tertentu dan bertindak atau dapat bertindak atas namanya sebagai suatu kesatuan. Badan korporasi dianggap sebagai pengarang, jika isi publikasi itu adalah tanggung jawab badan bersangkutan dan bukan tanggung jawab anggotanya walaupun nama seorang anggota tercantum sebagai penyusun. Tajuk entri utama untuk karya ini ditetapkan pada nama badan korporasi, sedang entri tambahan pada judul dan subyek serta nama orang yang menyusun (jika disebut di halaman judul dan dianggap perlu )
Contoh :
Islam, Alim Ulama dan Pembangunan / Pusat Da’wah Islam Indonesia, tajuk entri utama pada Pusat Da’wah Islam Indonesia ( badan korperasi) entri tambahan pada judul dan subyek.


 
  

BAGAN KLASIFIKASI DDC
Untuk mengenal DDC sedikit lebih jauh, berikut ini kutipan sebagaian dari bagan klasifikasi DDC ediri 10 dan klasifikasi Islam yang diadaptasi dan diperluas.
000- Karya Umum
010- Bibliografi
020- Ilmu Perpustakaan dan Informasi
030- Ensiklopedi umum
040-
050- Penerbitan berkala umum
060- Organisasi dan Permeseuman
070- Jurnalisme, penerbitan, surat kabar
080- Kumpulan karya karya umum
090- Manuskrip dan buku langka

100- Filsafat  
110- Metafisika
120- Teori pengetahuan
130- Gejala paranormal
140- Aliran filsafat
150- Psikologi
160- Logika
170- Etika
180- Filsafat kuno
190- Filsafat barat modern

200- Agama
210- Agama – agama alam
220- Alkitab
230- Teologi Kristen
240- Moral dan amal agama Kristen
250- Gereja Kristen lokal
260- Teologi sosial
270- Sejarah Gereja
280- Denominasi & sekte gereja
290- Agama – agama lain
297- Agama islam

300- Ilmu – ilmu Sosial
310- Statistik
320- Ilmu politik
330- Ilmu ekonomi
340- Hukum
350- Administrasi negara
360- Masalah dan pelayanan sosial
370- Pendidikan
380- Perdagangan & Perhubungan
390- Adat istiadat & Kebiasaan

400- Bahasa
410- Linguistik
420- Bahasa Inggris
430- Bahasa Jerman
440- Bahasa Perancis
450- Bahasa Itali, Romania
460- Bahasa Spanyol & Portugis
470- Bahasa Latin
480- Bahasa Yunani

490- Bahasa – bahasa lain

500- Ilmu-ilmu Murni
510- Matematika
520- Astronomi
530- Fisika
540- Kimia
550- Geologi
560- Paleontologi
570- Ilmu Hayat
580- Ilmu tumbuh-tumbuhan
590- Ilmu hewan

600- Ilmu-ilmu Terapan
610- Kedokteran
620- Rekayasa (engineering)
630- Pertanian
640- Kesejahteraan keluarga
650- Manajemen
660- Teknologi Kimia
670- Manufaktur
680- Manufaktur khusus
690- Teknik bangunan

700- Kesenian
710- Seni Tata lingkungan
720- Arsitektur
730- Seni pahat & ukir
740- Menggambar
750- Melukis & kulisan

 
760- Seni Grafika & Percetakan
770- Fotografi
780- Musik
790- Rekreasi dan seni Pertunjukkan

800- Kesusastraan
810- Sastra Indonesia
820- Sastra Inggris
830- Sastra Jerman
840- Sastra Perancis
850- Sasatra Itali, Romania
860- Sastra Spanyol dan Portugis
870- Sastra Latin
880- Sastra Yunani
890- Sastra bahasa lain

900- Geografi dan sejarah
910- Geografi dan perjalanan
920- Biografi
930- Sejarah dunia purba s.d 499
940- Sejarah Eropa
950- Sejarah Asia
         959.8- Sejarah Indonesia
960- Sejarah Afrika
970- Sejarah Amerka Utara
980- Sejarah Amerika Selatan
990- Sejarah dunia lainnya

2X0-    Islam (Umum)
2X0.1- Islam dan Filsafat

2X0.3- Islam dan Ilmu Sosial
2X0.5- Islam dan Ilmu Murni
2X0.6- Islam dan Teknologi
2X0.7- Islam dan Kesenian
2X0.9- Islam dan bidang lainnya

2X1   Al-Qur’an dan Ilmu yang berkaitan
2X1.1-  Ilmu-ilmu Al-Qur’an
2X1.2- Al-Qur’an dan terjemahannya
2X1.3- Tafsir Al-Qur’an
2X1.4- Kumpulan ayat2 dan surat2 tertentu
2X1.5- Kritik dan Komentar mengenai
             Al-Qur’an
2X1.6- Kandungan Al-Qur’an
2X1.7- Musabaqah TilawatilQur’an
2X1.9- Sejarah Al Qur’an

2X2 – Hadis dan Ilmu yang berkaitan
2X2.1- Ilmu Hadis, termasuk Mustalah Hadis
2X2.2- Kumpulan Hadis ( menurut perawi, matan terjemah, syarah)
2X2.3- Kumpulan Hadis menurut bidang tertentu
2X2.4- Kumpulan Hadis menurut derajat Hadis
2X2.5- Kritik terhadapHadis
2X2.6- Cerita – cerita hadis
2X2.9- Sejarah pengumpulan, penulisan , dan pembukuan Hadis

 
2X3 – Aqidah dan Ilmu Kalam
2X3.1 – 2X3.6 – Pembahasan mengenai rukun imam
2x3.7- Kepercayaan mengenai hal – hal tertentu
2x3.8- Aqidah menurut aliran dan sekte-sekte tertentu
2x3.9- Islam dan agama / aliran lain

2X4- Fiqih
2X4.1- Ibadah
2X4.2- Mu’amalat
2X4.3- Hukum perkawinan (munakahat
2X4.4- Hukum waris (faraid) dan wasiat
2X4.5- Hukum pidana Islam (jinayat)
2X4.6- Hukum peradilan (qada)
2X4.7- Hukum Internasional
2X4.8- Fiqih dari berbagai faham
2X4.9- Aspek fiqih lainnya

2X5 – Akhlak dan Tasawuf
2X5.1- Akhlak
2X5.2- Tasawuf
2X5.3- Tarekat
2X5.4- Do’a dan wirid

2X6  - Sosial dan Budaya Islam
2X6.1- Masyarakat Ilsam
2X6.2- Politik
2X6.3- Ekonomi
.
[2X6.4]- Kedudukan wanita
2X6.6- Organisasi
2X6.7- Kesenian dan kebudayaan
2X6.8- Perpustakaan dan museum
2X6.9- Adat istiadat

2X7 -  Filsafat dan Perkembangan
2X7.1- Filsafat
2X7.2- Dakwah
2X7.3- Pendidikan
2X7.4- Pemurnian dan Pembaharuan pemikiran
2X7.5- 

2X8  - Aliran
2X8.1-
2X8.2-
2X8.3-
2X8.4-
2X8.5-
2X8.6-
2X8.7-
2X8.8-
2X8.9-






 
2X9  - Sejarah Islam dan Biografi
2X9.1-  Zaman Nabia
2X9.2- Khulafaurrsyiah
2X9.3- Daulah Amawiyah
2X9.4- Daulah Abbasiyah
2X9.5- Daulah  daulah lain
2X9.6- Perkembangan ilma di berbagai negeri setelah 1800  
2X9.8- Biografi tokoh-tokoh / pemuka pemuka Islam
 
BEBERAPA CONTOH KATALOG KARTU 


TAJUK ENTRI UTAMA PADA PENGARANG 

1.  Kartu Utama 
 




                                                     TAJUK  ENTRI UTAMA PADA JUDUL



 
Semua kartu katalog di atas dijajarkan di laci catalog sesuai dengan jenis katalognya dengan sistematika tertentu. Katalog nama orang , baik pengarang utama, tambahan, penerjemah, editor dll, dijajarkan secara alfabetis ( menurut urutan abjad ) di laci catalog pengarang. Catalog judul dijajarkan secara alfabetis di laci catalog judul. Catalog subyek juga dijajarkan secara alfabetis di laci katalog subyek. Selain itu, perpustakaan hendaknya membuat satu kartu tambahan lagi yang disebut Shel list (kartu pengerakan) yang persisi seperti kartu utama, namun dijajarkan di laci tersendiri sesuai dengan susunan buku di rak, yaitu menurut ururtan nomor panggil (call number). Kartu pengerakan ini berfungsi apabila perpustakaan akan mengadakan penghitungan buku (stock opname) atau inventarisasi ulang koleksi, untuk mengetahui secara riil jumlah koleksi setelah perpustakaan berjalan beberapa tahun.


 
P E N U T U P

Kesimpulan
Library merupakan suatu perpustakaan yang mempunyai fungsi antara lain mengadakan mengolah, menyediakan dan menyebarkan informasi melalui hardware dan software atau melalui perangkat keras dan perangkat lunak. Sehingga membutuhkan staf pengelola yang professional serta memahami dengan sungguh – sungguh teknik pengelolaan perpustakaan. Dengan demikian tentunya staf yang professional akan dapat menyediakan , menata perpustakaan dengan teratur dan benar sehingga dapat memudahkan pencaria informasi untuk menemukan jenis informasi tertentu yang dibutuhkan.

Saran
Para staf perpustakaan sangat perlu untuk diberi pendidikan dan pelatihan atau penataran sesering mungkin, sehingga dapat mengikuti perkembangan teknik pengelolaan perpustakaan, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.




 
DAFTAR  PUSTAKA

1.            E. Pino, Kamus Inggris , Penerbit  Pradya Paramita , Jakarta . 1990
2.            Umar Tirta Rahardja, Pengantar Pendidikan , Penerbit Renika Cipta,   Jakarta. 2000
3.            Akses Internet : http://en.wikipedia.org/wiki/library.
Date : Desember, 12 th 2010
Tanggal : 12 Desember 2010
5.            Akses internet : http://www.lib.ui.ac.id/news.php
Tanggal : 12 Desember 2010











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar