S E L A M A T D A T A N G

Rabu, 30 November 2011

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
             Berbagai komponen penentu yang tidak dapat diabaikan dalam keberhasilan proses belajar mengajar (PBM) antara lain adalah: kurikulum, siswa, fasilitas, sumber belajar, dan media pembelajaran. Keberadaan guru dalam sangat menentukan hasil pembelajaran. Namun demikian, guru sangat berperan penting dalam keberhasilan tersebut. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, terutama keterampilan menulis guru tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa agar mampu menulis saja, tetapi juga menumbuh kembangkan budaya tulis dikalangan mereka. Guru diharapkan memahami berbagai hal yang berkaitan dengan keberadaan siswa, termasuk minat, sikap, perkembangan emosional dan lingkungan budaya mereka. Guru juga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam PBM, sekaligus menemukan solusi dan meningkatkan mutu pembelajaran.
             Berdasarkan evaluasi peneliti sebagai guru kelas terhadap proses pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V yang siswanya berjumlah 36, dapat disimpulkan bahwa secara umum siswa mengalami kesulitan dalam penciptaan puisi. Kemampuan siswa menulis puisi masih kurang dari yang diharapkan. Kesulitan siswa dalam menulis puisi tersebut secara garis besar meliputi: menentukan dan mengembangkan tema puisi, mengembangkan ide pada puisi, pemilihan kata (diksi) yang tepat, dan menggunakan majas pada puisi.
             Seringkali ketika tema puisi telah didapat siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkannya menjadi puisi yang lengkap, karena  kekurang-mampuan untuk mengembangkan ide-ide berdasarkan tema tersebut. Kesulitan  siswa dalam mengembangkan ide tersebut ditengarai oleh hal-hal berikut ini:
1.       Siswa memerlukan waktu yang relatip lama untuk menyelesaikan tugas menyelesaikan puisi. Bahkan dalam satu jam pelajaran ada beberapa anak yang belum bisa menyelesaikan tugasnya.
2.       Judul puisi berdasarkan tema yang sama antara siswa satu dengan yang lain kurang bervariasi.
3.       Jumlah baris dalam bait terbatas.
4.       Diksi yang dipilih sering kali kurang tepat.
5.       Majas yang digunakan dalam puisi jarang, bahkan hampir bergaya bahasa seperti narasi.
Di samping itu suasana kelas pembelajaran puisi kurang menarik, yang ditandai dengan:
  1. Siswa lebih banyak mengerjakan hal lain seperti mencoret-coret buku atau mainan pensil/ballpoin daripada menegerjakan tugasnya menciptakan puisi.
  2. Siswa banyak bertanya kepada teman lain dalam menulis puisi, bahkan banyak yang mencontoh puisi teman yang dianggap pintar.
  3. Suasana kelas gaduh.
  4. Siswa berusaha membuka-buka buku mencari contoh-contoh puisi.
Permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (1) Kurangnya kepekaan siswa terhadap pengalaman-pengalaman hidup untuk dituangkan menjadi puisi; (2) Kurangnya minat baca pada siswa; (3) Kurangnya kemampuan siswa membedakan puisi dengan narasi; (4) Kurangnya kemampuan siswa dalam menggunakan majas pada puisi; (5) Kurangnya guru memberi kesempatan untuk mengapresiasi puisi; (6) Kurangnya kemampuan guru mengajarkan puisi; (7) Kurangnya jam pembelajaran puisi; dan (8) Kurang tepatnya teknik yang digunakan guru dalam pembelajaran puisi.
Teknik yang biasanya diterapkan dalam pembelajaran puisi kurang bervariasi. guru biasanya memberikan tema kemudian siswa mengembangkan sendiri puisi tersebut. Untuk bisa meningkatkan kemampuan siswa tersebut perlu digunakan teknik yang bervariasi.
Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini saya menggunakan peta konsep (PK) dalam pembelajaran puisi. PK dikatakan sebagai cara yang mudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi tersebut keluar otak (Buzan, 2005). PK  merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif yang sebagaimana tersurat dari namanya, dapat memetakan pikiran-pikiran yang ada di kepala. Melalui PK dapat diperlihatkan ide pokok dan ide-ide pelengkap, termasuk hubungan antara ide pokok dan ide-ide pelengkap. Sistem ini seperti layaknya peta yang bisa memperlihatkan kota dan desa-desa beserta jalan yang menghubungkannya.
             Kemampuan PK untuk dapat mengeluarkan ide-ide dari kepala tersebut dapat membantu siswa mengeluarkan ide-ide tentang sebuah kata kunci yang perlu dikembangkan untuk menjadi puisi yang baik. Fleksibilitas alur dalam PK memungkinkan siswa menggali ide sebanyak-banyaknya tanpa terhambat oleh alur yang terbatas seperti pada pula alur diagram misalnya. Kelenturan pola alur PK itu sendiri dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengembangkan ide karena siswa bisa membentuk beragam bentuk alur PK hingga menyerupai laba-laba, gurita, antau bentuk lain sesuai kreativtas siswa.
             PTK yang dilaksanakan dengan menggunakan PK ini diharapkan dapat membantu siswa menggali ide-ide lebih banyak sehingga kemampuan siswa untuk mengembangkan suatu tema menjadi puisi dapat meningkat. Diharapkan juga, kemampuan mengembangkan ide yang meningkat tersebut dapat membantu siswa dalam tugas mengarang; dan pembelajaran lainnya yang memerlukan ide-ide dalam menyelesaikannya.

B. Rumusan Masalah
             Sesuai uraian di atas, masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah dan sejauh manakah peta konsep dapat meningkatkan kemampuan siswa menuangkan ide-ide dalam penciptaan puisi?
2.      Bagaimanakah proses pembelajaran puisi yang menggunakan peta konsep?

C. Tujuan Penelitian
             Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah: 
1.       Untuk mengidentifikasi apakah dan sejauh manakah peta konsep dapat meningkan kemampuan siswa menuangkan ide-ide dalam penciptaan puisi
2.       Untuk mendeskripsiksn proses pembelajaran puisi yang menggunakan peta konsep.

D. Manfaat Penelitian
             Melalui PTK ini dharapkan akan diperoleh beberapa manfaat kepada pihak-pihak sebagai berikut:
  1. Siswa: semakin terampil dalam hal menulis puisi; semakin pandai menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk lisan maupun tulisan; mempunyai minat dan motivasi untuk menulis puisi; dan meningkat prestasi dalam menciptakan puisi.
  2. Guru: semakin mudah mengamati kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukan sebelumnya; mengidentifikasi masalah di kelas sekaligus mencari solusinya; dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  3. Sekolah: memotivasi guru lainnya untuk meningkatkan mutu pembelajaran; mendapatkan model peningkatan professional guru; dan menciptan kolaborasi dengan sesama guru.





BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A.  Landasan Teori
1.  Pengertian Puisi
Secara etimologi istilah puisi berasal dari bahasa Yunani “poema” atau “poetry” yang berarti pembuatan, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “poem” atau “poetry” yang berarti membuat atau pembuatan, karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Supriyadi, 2006: 67).
Definisi puisi cukup banyak, salah satu pendapat yang cukup mudah dipahami adalah Waluyo (1995: 25) yang mendefinisikan puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya.
Berdasarkan asal-usul istilah puisi diatas dan barbagai pendapat para ahli, pengertian puisi dapat dirumuskan disefinisikan sebagai salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata, rima, dan irama sebagai media penyampaian untuk membuahkan ekspresi, ilusi, dan imajinasi. Seperti halnya sebuah lukisan yang menggunakan garis warna dalam menggambarkan gagasan pelukisannya, dalam puisi keindahan ilusi, penataan unsur bunyi juga merupakan pembeda yang sangat signifikan bila dibandingkan fiksi dan drama.
Puisi dibangun oleh beberapa unsur, baik unsur dari dalam maupun unsur dari luar. Unsur dari dalam maupun unsur dari luar dipadukan menjadi satu kesatuam menjadi karya teks puisi. Unsur-unsur pembangun puisi tersebut adalah sebagai berikut:. tema dan amanat, citraan (pengimajinasian), rima, diksi, irama (musikalisasi), dan sudut pandang. Unsur-unsur pembangun puisi tersebut diuraikan di bawah ini.


a.      Tema dan Amanat
Tema dalam puisi adalah ide pokok yang menjiwai seluruh isi keseluruhan puisi. Dalam puisi, ide pokok dapat tersurat dengan kelas dan dapat pula tersirat.
Amanat tersurat maupun secara tersirat kepada pembacanya atau penikmatnya. Bila dibandingkan dengan prosa fiksi, tema dan amanat dalam puisi relatif tersamar. Oleh sebab itu, pembaca tau penikmat, memerlukan pemahaman yang lebih jlimet dan peka terhadap pilihan kata, rima, irama, dan tipografi puisi. Karena dari berbagai unsur puisi teresbut kesimpulan tema dan amanat puisi tersebut dapat dirumuskan secara tepat.

b.      Citraan/ pengimajinasian
Citraan adalah gambaran angan (abstrak) yang dihadirkan menjadi sesuatu yang konkret dapat ditangkap panca indra, yaitu dapat dilihat, didengar, dirasa, diraba, dan dibaca.

c.       Rima
Rima adalah persajakan atau persamaan bunyi yang terdapat dalam puisi. Persajakan antar bunyi pada lirik-lirik puisi disebut rima eksternal. Sedangkan persajakan bunyi dalam lirik puisi disebut rima internal. Persajakan dalam larik puisi (internal) dapat berupa:
1)      Persamaan bunyi-bunyi konsonan disebut ali terapi, dan
2)      Persamaan bunyi-bunyi vokal disebut asonansi

d.      Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang digunakan penyair dalam membangun puisinya. Puisi-puisi modern atau konvensional mencari kekuatan pada diksi yang tepat, karena makna dan keindahan yang dibangun oleh seni kata. Seni kata merupakan ekspresi pengalaman batin/jiwa kedalam kata-kata yang indah. Setiap kata yang digunakan dalam cipta sastra mengandung nafas penciptaannya, berisi jiwa dan perasaan pikiran penyairnya. Kata merupakan unsur integral dan esensi dalam puisi. Penggunaan kata-kata yang tepat akan menunjukkan kemampuan intelek penulis dalam melukiskan sesuatu.

e.      Irama (Musikalisasi)
Irama dalam puisi adalah alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang dalam sebuah puisi. Irama merupakan unsur musikalisasi dalam puisi. Irama puisi hadir karena adanya persajakan aliterasi/ asonansi, repetisi, dan pilihan diksi yang mengandung musik. Fungsi irama dalam sebuah puisi dapat menguatkan keindahan sebuah puisi, memberi jiwa pada kata-kata, dan membangkitkan emosi pembaca atau penikmatnya. Puisi jenis ini dapat menimbulkan gerakan seni, mesalnya syair lagu bila dibaca atau dinyanyikan dapat membuat pendengarnya tergugah jiwa estetikanya.

f.        Sudut Pandang
Sudut pandang atau pusat pengisian, yaitu cara penyampaian ide atau gagasan penyair kepada pembaca, pendengar, atau penikmat puisinya.
Seperti halnya dalam prosa fiksi, dalam puisipun terdapat tiga cara penyair menyampaikan ide atau gagasannya, yakni sebagai orang yang aktif/ terlibat, sebagai pengamat, dan sebagai Tuhan.

2.  Pembelajaran Puisi

Pembelajaran Bahasa Indonesia SD menekankan pada aspek keterampilan berbahasa diantaranya: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Kompetesi dasar yang akan dicapai pada aspek mendengarkan yaitu memahami wacana lisan berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai peristiwa, benda sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun, dan cerita rakyat.
Pada aspek keterampilan berbicara siswa menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana, wawancara, percakapan telepon,diskusi, pidato, 
deskripsi peristiwa dan benda sekitar, memberi petunjuk dan deklamasi, cerita, hasil pelaporan hasil pengamatan, pemahaman isi buku dan berbagai karya sastra untuk anak, dongeng, pantun, drama dan puisi.
Adapun aspek yang ketiga siswa menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan cerita, dan drama.
Sedangkan aspek menulis kompetensi yang diharapkan siswa dapat melakukan berbagai menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, tertulis, teks pidato, laporan, ringkasan, paraprase, berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, dan puisi.
Pembelajaran puisi di Sekolah Dasar baik dikelas awal mupun kelas lanjut disesuaikan dengan tingkat siswa tersebut, yaitu puisi awal, syair lagu, dan pantun. Sedangkan untuk kelas lanjut materi pembelajaran ditingkatkan menjadi puisi bebas berdasarkan ide pokok.
Pembelajaran puisi dimaksudkan agar siswa bisa mengekspresikan puisi, yaitu mendengarkan cerita, memahami mendeklamasikan, membaca, dan menulis puisi. Pembelajaran puisi dilakukan secara integratif berdasarkan keempat aspek ketrampilan berbahasa, yaitu: a) Mendengarkan, b) Berbicara, c) Membaca dan d) Menulis (Supriyadi, 2006: 113).
Adapun pembelajaran puisi berdasarkan keempat aspek ketrampilan berbahasa tersebut dapat uraikan sebagai berikut:
a).  Mendengarkan Puisi.
Mendengarkan pembacaan puisi secara langsung merupakan salah satu strategi pembelajaran apresiasi puisi. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan guru memcakan puisi atau guru memperdengarkan kaset rekaman. Hal ini lebih menarik perhatian siswa karena adanya tape recorder.
b).  Berbicara
Ketrampilan berbicara yang berupa delamasi dimaksudkan agar dapat berbicara dengan lafal dan intonasi yang tepat. Ha itu bisa menggunakan syair lagu sebagai sarananya.

c).  Membaca
Membaca puisi secara estetis sangat tepat dibelajarkan dikelas lanjut. Hal ini karena siswa sudah mempunyai kemampuan membaca dengan baik.
d).  Menulis Puisi
Pembelajaran menulis puisi diarahkan pada pengembangan gagasan pokok atau ide menjadi sebuah puisi dan mengubah prosa menjadi puisi.
Kemampuan siswa Sekolah Dasar dipedesaan secara nyata kurang dimiknati. Oleh karena itu, guru perlu mempunyai minat dan bekal yang memadai tentang berbagai strategi menulis puisi.

3. Pengertian Peta Konsep
Konsep dapat didefinisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah definisi yang dikemukakan Carvol dalam Kardi (1997 :2) bahwa konsep merupakan suatu akstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.
Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajarai hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk konsep yang dihubungkan oleh kata-kata suatu unit semantic (Novak dalam Dahar, 1988: 150).
George Posner  dan Alan Rudnitsjy dalam Nur (2001: 36) menyatakan bahwa peta konsep miri peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antara tempat. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integeratif. Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo (2002: 26) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami, sedang penyesuaian intergratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu, belajar bermakna lebih dikaitkan dengan konsep yang inklusif.
Membuat peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan ide-ide tersebut dalam pola logis. Kadang-kadang peta konsep itu menfokus  pada hubungan sebab-akibat. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
a.       Peta Konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan komposisi suatu bidang studi.dengan membuat sendiri peta konsep siswa ‘melihat’ bidang studi lebih kelas dan mempelajari bidang studi itu bermakna.
b.      Suatu peta konsep merrupakan suartu gambar dua dimensi dari suatu bidang atau suatu bagian dari bidang studi.
c.       Cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep, tidak sama  konsep  memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada  beberapa konsep yang lebih inklusif daripada konsep-konsep lain.
d.      Hirarki. Bila dua konsep atau lebih digambarkan dibawah suatu konsep yang lebih konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta konsep tesebut. Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep didalam permasalahannya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui mis konsepsi yang dimiliki siswa dan dapat memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informsi baru (Arends: 251).

4. Pembelajaran Puisi dengan Peta Konsep
Peta konsep merupakan salah satu bagian dari bagian dari  strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau membagi ide-ide atau istilah itu menjadi sub-sub yang lebih besar.
Salah satu pernyataan dala teori Ausubel adalah “bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa (Suryadi menambahkan disini, ini yang disebut Teknik Konstruktivisme). Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu, Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.
Menurut Dahar (111: 154) peta konsep memegang peranan pering dalam belahar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna.
Adapun langkah-langkah untuk menciptakan suatu peta konsep sebagai berikut:
  1. Langkah: Mengisentifikasi ide pokok atau prinsip yang melengkapi sejumlah PK.
  2. Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjuk ide utama.
  3. Menempatkan ide utama ditengah atau dipeta-peta konsep.
  4. Mengelompokkan ide-ide sekundet dikelilingi ide utama yang sesuai visual menunjukkan dengan ide-ide tersebut hubungan

B. Penelitian yang Relevan
            Pada bab ini dikemukanan tiga hasil penelitian yang menerapkan PK dalam pembelajaran, yaitu: 1) Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran IPS sekolah dasar: penelitian tindakan kelas pada SD Negeri Isola II Bandung, yang 
dilakukan oleh Husin, M (1999); 2) Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Sekolah Menengah Umum Melalui Penyusunan Peta Konsep, oleh Ramdani (2004); dan 3) Pembelajaran Menggunakan Peta Konsep untuk Meningkatkan Pemahaman Mahasiswa PGSD FKIP Universitas Jember pada Mata Kuliah PPKn, oleh Khutobah (2006). Walaupun ketiga penelitian tersebut dilakukan dalam seting dan tema berdeda, tetapi penggunaan PK menunjukkan hasil yang positif.
Husin (1999), dalam usaha untuk memperoleh gambaran yang jelas dan sekaligus memberikan solusi praktis kepada guru IPS di SD dengan menggunakan peta konsep dalam proses pembelajaran di kelas melakukan PTK dengan menerapkan PK yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Hasilnya secara garis besar positif sehingga muncul rekomendasi  agar: ” ... hasil penelitian dapat disarankan secara konseptual dan praktis kepada pihak terkait, agar berusaha mengetahui, memahami, menerapkan pembelajaran dengan mengunakan perta konsep, dan kepada siswa belajara melalui yang ada dilingkungannya”.
Masalah rendahnya kemampuan siswa SMA Negeri 26 Bandung melakukan koneksi matematika ditanggulangai oleh Ramdhani (2004) dengan melaksanakan penelitian eksperimen dengan menggunakan PK. Penelitian tersebut menunjukkan hasil yang potif sebagai berikut:
”Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa setelah ada perlakuan, subyek penelitian menunjukkan perbedaan secara signifikan. Berdasarkan analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan siswa Sekolah Menengah Umum yang memperoleh metode pembelajaran matematika disertai penyusunan peta konsep lebih baik daripada kemampuan siswa Sekolah Menengah Umum yang memperoleh metode pembelajaran matematika tanpa disertai penyusunan peta konsep dalam melakukan koneksi matematika. Sedangkan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika disertai penyusunan peta konsep dan soal-soal koneksinya menunjukkan sikap yang positif.”
Khutobah (2006) mengemukakan bahwa PTK yang dilakukan kolaboratif dengan dua orang dosen dengan menerapkan PK menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman mata kuliah PPkn para mahasiswa PGSD FKIP Universitas Jember. Melalui PTK yang dilakukan selama 3 siklus menunjukkan, dari 69,76% mahasiswa yang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, di akhir proses pembelajaran 88,37% mahasiswa yang mendapatkan nilai 72,1 bahkan lebih untuk mata kuliah PPKn dan hal ini jelas melampaui batas minimalnya. (batas minimal 70)” (Khutobah, 2006).

C. Kerangka Berfikir
            Dalam proses belajar mengajar banyak strategi yang dipilih. Demikian pula dalam pengeolaan kelas dapat menggunakan pendekatan kelompok maupun individu serta tidak membedakan gender. Pemilihan strategi dalam pengelolaan kelas dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti: materi pembelajaran, waktu yang tersedia, potensi siswa, tempat, media, dan lain-lain.
Penggunaan strategi pembelajaran peta konsep merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran.  Adapun peta konsep yang dimaksud ialah strategi organisasi bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama pengorganisasian baru pada  bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu  menjadi sub-sub yang lebih kecil.

D.  Hipotesis
Dalam penelitian tindakan kelas yang menggunakan peta konsep untuk meningkatkan kemampuan siswa menuangkan ide, dalam penciptaan puisi dikemukakan hipotesis sebagai berikut: Peta konsep dapat meningkatkan kemampuan siswa menuangkan ide dalam penciptaan puisi.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.     Setting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 3 Donohudan Kecamatan Ngemplak,  Boyolali.
B.     Subyek Penelitian
Siswa kelas V SD Negeri 3 Bonohudan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali tahun pelajaran 2007/2008.
C.     Sumber Data
·        Proses pembalajaran puisi di kelas . Selama berlangsungnya PTK, kelas dan proses pembelajaran puisi yang menerapkan PK menjadi sumber data dimana saya selain melaksanakan pembelajaran dengan PK, juga mengamati proses sekaligus mengadakan refleksi atas pembelajaran tersebut.
·        Hasil wawancara. Selama melakukan PTK ini saya beberapa kali melakukan wawancara kepada siswa. Pertanyaan yang saya ajukan adalah sekitar reakssi siswa terhadap pelaksanaan PK dalam pembelajaran puisi. Hasil wawancara yang kemudian saya cacat menjadi sumber data yang penuh warna.
·        Hasil PK dan hasil puisi siswa. Dalam pelaksanaan PTK ini siswa diminta membuat PK untuk menuangkan ide-ide yang kemudian dari ide tersebut siswa ditugasi untuk menciptakan puisi. Hasil PK dan puisi tersebut menjadi data penelitian.
·        Catatan peneliti sendiri. Kesan-kesan dan catatan yang saya himpun selama pelaksanaan PTK ini merupakan sumber data yang bermanfaat untuk penelitian ini.
D.    Teknik dan Alat Pengumpulan Data
·        Observasi kelas. Observasi kelas dilakukan selama pembelajaran puisi melalui PK ini berlangsung.
·        Wawancara. Teknik wawancara dilakukan kepada siswa untuk menggali berbagai informasi tentang perasaan siswa terhadap penerapan PK pada pembelajaran puisi.
·        Dokumentasi. Teknik dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan hasil karya siswa dalam bentuk PK dan puisi.
·        Catatan peneliti/diari. Walaupun kurang lengkap, saya menuliskan kesan-kesan yang saya rasakan dalam pelaksanaan PTK ini.
A.     Validasi Data
Validasi data dalam penelitian ini dilakuken sebagai berikut:
·        Triangulasi sumber data. Sumber data diambil dari berbabagi sumber seperti tertuang pada Bab III. C di atas.
·        Tiangulasi metode.Dalam PTK ini pengambilan data dilakukan melalui empat teknik seperti dicantumkan pada Bab III. D di atas.
·        Triangulasi teori. Dalam Bab II, teori yang menunjang diambil dari berbagai sumber.

B.     Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis sesuai dengan jenis data yang terkumpul.

C.     Indikator Kinerja
Dalam penelitian ini diajukan indicator kinerja sebagai berikut:
A.
1.    Meningkatnya waktu  untuk menyelesaikan puisi.
2.    Semakin bervariasi judul puisi.
3.    Bertambahnya jumlah kata, baris,  dan bait dalam puisi.
4.    Bertambahnya diksi dalam puisi
5.    Semakin bervariasinya majas dalam puisi.
B.
1.    Kegiatan siswa di kelas semakin terfokus pada pembelajaran puisi, bukan melakukan kegiatan non akademik lainnya.
2.    Siswa semakin mandiri dalam menciptakan puisi, tidak mencontek puisi teman, atau mencontoh puisi yang sudah ada.
3.    Suasana kelas hidup.


D.    Prosedur Penelitian
PTK ini dilaksanakan melalui 3 siklus, yang masing-masing siklus terdiri atas 5 tahap, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan; 3) observasi; 4) refleksi; dan 5) perbaikan rencana siklus berikutnya. Secara keseluruhan PTK ini dilaksanakan seperti terangkung dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Prosedur penelitian
Pra-PTK
Pengecekan lapangan

Untuk mendapatkan data yang lebih konkrit tentang sejauh mana kemampuan siswa menuangkan ide dalam penciptaan puisi dilakukan pembelajaran penciptaan puisi sebelum dilaksanakan PTK dengan menggunakan peta konsep (PK)
·      Guru (G) memimpin pembelajaran penciptaan puisi dengan teknik yang biasanya dilakukan.
·      Meminta siswa (S) untuk membuat puisi.
·      G mengumpulkan dan menganalisis puisi tulisan S tersebut.
Pelaksanaan PTK
Siklus I: mengembangkan ide melalui PK berdasarkan kata kunci yang sama; secara klasikal yang dipandu oleh guru.
Lihat Tabel 4.2
1.    Perencanaan
2.    Pelaksanaan
3.    Observasi
4.    Refleksi
5.    Perbaikan Rencana
Siklus II: mengembangkan ide melalui PK berdasarkan kata kunci yang sama; secara berkelompok.
Lihat Tabel 4.3
1.      Perencanaan
2.      Pelaksanaan
3.      Observasi
4.      Refleksi
5.      Perbaikan Rencana
Siklus III: mengembangkan ide melalui PK berdasarkan kata kunci yang berbeda; secara berkelompok.
Lihat Tabel 4.4
1.      Perencanaan
2.      Pelaksanaan
3.      Observasi
4.      Refleksi
5.      Perbaikan Rencana
Pasca-PTK
Rencana selanjutnya
·      Agar semua S dapat lebih terampil mengembangkan PK. Maka tiap S akan ditugasi membuat PK dan menciptakan puisi sesuai PK buatan sendiri.
·      Setelah dirasa cukup, direncanakan akan diadakan lomba antar S di kelas V: pengembangan ide melalui PK dan penulisan puisi berdasarkan PK tersebut.
·      Agar lebih meningkatkan motivasi S, pemenang lomba disediakan hadiah







            

             BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.     Deskripsi Kondisi Awal
             Penelitian tindakan kelas (PTK) yang berfokus pada pemecahan masalah penuangan ide dalam penciptaan puisi siswa Kelas V SD Negeri 3 Donohudan, Boyolali, dilakukan melalui tiga siklus penelitian. Dimana ketiga siklus tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan. Masing-masing siklus terdiri atas lima tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi, dan perbaikan rencana untuk siklus berikutnya. Proses PTK melalui siklus-siklus tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan terkait dengan kemampuan siswa menuangkan ide-ide dalam penciptaan puisi perbedaan tersebut dapat dilihat melalui Tabel 4.1
Tabel 4.1 Situasi Awal Sebelum PTK
Masalah
Indikator Masalah
Kemampu-an siswa menuang-kan ide
6.    Waktu untuk menyelesaikan puisi: lama. Tidak semua anak bisa menyelesaiakn puisi dalam satu jam pelajaran.
7.    Judul puisi kurang bervariasi.
8.    Jumlah baris dalam bait terbatas.
9.    Diksi kurang tepat.
10.Majas: jarang, cenderung seperti narasi.
Suasana di kelas
4.    Siswa lebih banyak mengerjakan hal lain seperti mencoret-coret buku atau mainan pensil/ballpoin daripada menegerjakan tugasnya menciptakan puisi.
5.    Siswa banyak bertanya kepada teman lain dalam menulis puisi, bahkan banyak yang mencontoh puisi teman yang dianggap pintar
6.    Suasana kelas gaduh.
7.    Siswa berusaha membuka-buka buku mencari contoh-contoh puisi.

             Sebagaimana yang terlihat pada Tabel 4.1 kondisi awal kelas sebelum dilaksakan PTK baik kemampuan siswa maupun suasan kelas kurang menyenangkan. Pembelajaran Bahasa Indonesia kurang diminati siswa, hal ini di tandai kurang antusias siswa dalam menerima pembelajaran. Ini terlihat dari raut wajah siswa yang tidak senang materi yang dibawakan guru ketika pembelajaran
.
Ketika pembelajaran puisi siswa merasa kesulitan ketika akan memulai membuat puisi terutama tema yang akan dikembangkan. Kebanyakkan siswa mengutarakan kesulitan kepada guru. Siswa lebih memilih mencatat, menghafal puisi daripada membuat puisi, dan menghafal ciri-ciri puisi.
             Siswa menyelesaikan puisi membutuhkan waktu yang lama untuk satu judul puisi. Siswa yang tergolong kurang pandai sampai waktu pembelajaran habis belum terselesaikan.
             Siswa cenderung mencontoh karya siswa yang lain yang dianggap paling pandai di kelas tersebut. Sehingga siswa bergrerombol pada salah satu tempat di mana siswa yang dianggap pandai. Siswa yang kurang pandai ada kecenderungan diam sambil menunggu jam pembelajaran selesai.
             Setelah pembelajaran berakhir siswa terlihat pasif. Ketika guru menyuruh salah satu siswa untuk membacakan hasil tugasnya siswa tersebut merasa enggan untuk membacakan. Setelah salah satu puisi dibaca, tidak ada yang memberanikan untuk mengomentari. Ketika guru mengakhiri pembelajaran guru memberi kesempatan untuk bertanya, siswa cenderung diam.
             Kondisi awal tersebut mengalami perubahan yang baik setelah dilakukan PTK melalui penerapan PK dalam penciptaan puisi. Perubahan dari siklus ke siklus dideskripsikan dalam bab berikut ini.

A.     Deskripsi dan Pembahasan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

1. Siklus I
              PTK dengan menggunakan PK dalam pembelajaran puisi yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa SD mengembangkan ide dilaksanakan dalam 3 siklus. Siklus pertama dilaksanakan dengan menerapkan PK secara klasikal kepada seluruh siswa yang dipandu oleh guru. Pada Siklus I, pengembangan ide berdasarkanpada satu kata kunci. Siklus kedua juga menggunakan satu kata kunci yang sama, tetapi PK dikembangkan oleh kelompok, yang seluruh kelas terdiri atas 4 kelompok. PK pada Siklus III juga dikembangkan oleh kelompok; bedanya kata kunci yang dikembangkan diputuskan oleh para siswa dalam kelompok masing-masing.
             Pelaksanaan Siklus I dalam PTK ini secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Pelaksanaan Siklus I
Siklus I: mengembangkan ide melalui PK berdasarkan kata kunci yang sama; secara klasikal yang dipandu oleh guru.
1.    Perenca-naan
·      Mempersiapkan RPP Bahasa Indonesia (BI) dengan materi puisi menggunakan (PK).
·      Pengembangan ide melalui PK dipandu oleh Guru (G) secara klasikal di depan kelas.
2.    Pelaksana-an
·      G memperkenalkan PK.
·      G memandu pengembangan ide penciptaan puisi dengan kata kunci Bulan.
·      Siswa (S) membuat puisi berdasarkan ide-ide tentang Bulan yang terpampang dalam PK di papan tulis.
3.    Observasi
·      S terlihat antusias dalam menyumbangkan ide tentang Bulan.
·      S menyalin PK ke dalam buku tulis masing-masing tanpa disuruh G.
·      Ketika PK sudah selesai masih ada beberapa S yang mengusulkan ide-ide tentang Bulan
·      S lebih cepat dalam menciptakan puisi
·      Komponen puisi karya S meningkat dan bervariasi.
·      S secara umum mendiskusikan puisinya dengan teman lainnya.
·      Hasil karya puisi siswa meningkat dan beragam.
4.    Refleksi
+     PK membantu S mengembangkan lebih banyak ide
+     PK memperkaya imajinasi S dalam menulis puisi
+     PK menghasilkan karya puisi beragam
-     Ketergantungan kepada S yang pandai tinggi, S yang kurang pandai cenderung kurang aktif
-     Hanya S yang tergolong pandai dan aktif yang menyumbangkan ide dalam pengembangan PK.
5.    Perbaikan Rencana
·      Agar setiap  S berpartisipasi aktif dalam mencurahkan ide, pengembangan PK tidak lagi dipandu G; tetapi dilakukan dalam kelompok (K).
·      Kata kunci yang dikembangkan dalam PK adalah oleh masing-masing K adalah Sawah.

             Tabel 4.2 menunjukkan dalam Siklus I, pengembangan ide melalui PK dipandu oleh guru, dengan pertimbangan siswa belum terbiasa menggunakannya. Reaksi siswa pada awalnya belum menunjukkan keantusiasan. Akan tetapi tidak lama kemudian siswa terlihat mulai tertarik yang ditandai dengan keberanian mereka untuk menyumbangkan ide-ide sehingga PK menjadi cepat berkembang dan alur PK hampir memenuhi papan tulis. Kelas memang terdengar gaduh, tetapi kegaduhan tersebut disebabkan oleh keaftifan siswa dalam mengembangkan ide berdasarkan kata kunci BULAN, bukan karena keramaian yang menunjukkan ketidaktertarikan siswa terhadap pembelajaran.
             Dampak positif pengembangan ide melalui PK ini juga terlihat dari waktu yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan penciptaan puisi setelah PK selesai dibuat dan terpampang di papan tulis. Dibandingkan sebelum PTK dilaksanakan, siswa secara umun cenderung lebih cepat menyelesaikan tugasnya dan tidak ada siswa yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya. Siswa sendiri juga terlihat senang akan hal ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Siswa Tri Rahmanto: ”Wah dadi gampang yo, penak  tur cepet”.
             Puisi ciptaan siswa tersebut kemudian saya bandingkan dengan puisi-puisi siswa yang dibuat dengan kata kunci yang sama, yaitu BULAN yang dilakukan tidak lama sebelum PTK dimulai (lihat Lampiran 6 – Lampiran 10). Elemen-elemen yang ada dalam puisi meningkat dalam halvariasi judul, jumlah bait, jumlah baris, jumlah kata, diksi ,dan majas. Sebagai contoh puisi karya Nanda Ika Rahmawati dengan judul ”Rembulan” setelah saya bandingkan ternyata ada perbedaan yang siknifikan antara sebelum PTK dilaksanakan dengan setelah Siklus I dilaksanakan. Setelah perlakuan Siklus I dilakukan dengan PK dengan kata kunci BULAN, ternyata mampu menuangkan ide yang dapat membangun puisi. Puisi yang diciptakan sudah kaya akan unsur-unsur tertentu seperti tema, diksi, majas, dan penyajiannya. Ia sudah pandai merangkai ide, mengharmoniskan ide serta memberi isi sehingga menghasilkan puisi yang bermakna. Namun demikian, dalam menyumbangkan ide belum semua siswa melakukannya, lebih banyak dilakukan oleh siswa yang lebih pandai. Siswa yang tergolong kurang pandai dan pemalu biasanya lebih banyak diam. Untuk itu saya merasa perlu untuk membantu siswa agar semuanya bisa lebih terlibat dalam mengembangkan ide.
             Dalam Siklus II saya merencanakan untuk membagi kelas dalam beberapa kelompok, yang kemudian masing-masing kelompok mengembangkan ide melalui PK, bukan lagi saya pandu secara klasikal. Dengan pengembangkan ide yang terbatas pada anggota kelompok ini, saya berharap semuan siswa dalam kelompok itu dapat menyumbangkan ide. Dalam Siklus II tersebut saya masih menetapkan satu kata kunci, yaitu SAWAH untuk dikembangkan oleh semua kelompok. Pertimbangan saya adalah agar siswa lebih berkonsentrasi pada pengembangan ide saja, dan tidak dibebani dengan memikirkan kata kunci yang harus dikembangkan. Pelaksanaan dan pembahasan Siklus II dideskripsikan di bawah ini.
siswa secara umun cenderung lebih cepat menyelesaikan tugasnya dan tidak ada siswa yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya. Siswa sendiri juga terlihat senang akan hal ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Siswa Tri Rahmanto: ”Wah dadi gampang yo, penak  tur cepet”.
             Puisi ciptaan siswa tersebut kemudian saya bandingkan dengan puisi-puisi siswa yang dibuat dengan kata kunci yang sama, yaitu BULAN yang dilakukan tidak lama sebelum PTK dimulai (lihat Lampiran 6 – Lampiran 10). Elemen-elemen yang ada dalam puisi meningkat dalam halvariasi judul, jumlah bait, jumlah baris, jumlah kata, diksi ,dan majas. Sebagai contoh puisi karya Nanda Ika Rahmawati dengan judul ”Rembulan” setelah saya bandingkan ternyata ada perbedaan yang siknifikan antara sebelum PTK dilaksanakan dengan setelah Siklus I dilaksanakan. Setelah perlakuan Siklus I dilakukan dengan PK dengan kata kunci BULAN, ternyata mampu menuangkan ide yang dapat membangun puisi. Puisi yang diciptakan sudah kaya akan unsur-unsur tertentu seperti tema, diksi, majas, dan penyajiannya. Ia sudah pandai merangkai ide, mengharmoniskan ide serta memberi isi sehingga menghasilkan puisi yang bermakna. Namun demikian, dalam menyumbangkan ide belum semua siswa melakukannya, lebih banyak dilakukan oleh siswa yang lebih pandai. Siswa yang tergolong kurang pandai dan pemalu biasanya lebih banyak diam. Untuk itu saya merasa perlu untuk membantu siswa agar semuanya bisa lebih terlibat dalam mengembangkan ide.
             Dalam Siklus II saya merencanakan untuk membagi kelas dalam beberapa kelompok, yang kemudian masing-masing kelompok mengembangkan ide melalui PK, bukan lagi saya pandu secara klasikal. Dengan pengembangkan ide yang terbatas pada anggota kelompok ini, saya berharap semuan siswa dalam kelompok itu dapat menyumbangkan ide. Dalam Siklus II tersebut saya masih menetapkan satu kata kunci, yaitu SAWAH untuk dikembangkan oleh semua kelompok. Pertimbangan saya adalah agar siswa lebih berkonsentrasi pada pengembangan ide saja, dan tidak dibebani dengan memikirkan kata kunci yang harus dikembangkan. Pelaksanaan dan pembahasan Siklus II dideskripsikan di bawah ini.
            

2.       Siklus II
              Pada Siklus II pengembangan ide melalui PK dilaksanakan oleh kelompok dengan harapan agar setiap siswa dalam kelompok dapat berpartisipasi aktif dalam mengembangkan ide. Selain itu, agar siswa tidak terbebani memikirkan ide apa yang harus dikembangkan dan dapat lebih berkonsentrasi pada pengembangan ide saja, semua kelompok mengembangkan ide yang sama, yaitu SAWAH. Pelaksanaan Siklus II pada PTK ini secara ringkas disajikan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Pelaksanaan Siklus II
Siklus II: mengembangkan ide melalui PK berdasarkan kata kunci yang sama; secara berkelompok.
1.    Perenca-naan
·      G mempersiapkan RPP BI dengan materi puisi melalui pengembangan PK dengan tema Sawah.
·      G menyiapkan pengelompokan S.
·      G menyiapkan peralatan pengembangan PK dalam K: spidol berwarwa dan kertas HVS.
2.    Pelaksana-an
·      G membagi siswa menjadi 4 kelompok.
·      G menuliskan kata kunci Sawah untuk dikembangkan oleh masing-masing Kdalam PK
·      S dalam kelompok mengembangkan PK
·      S membuat puisi  berdasarkan PK hasil pengembangan
3.    Observasi
·      Setiap S di dalam K menyumbangkan ide tentang Sawah
·      Hampir semua S aktif berdiskusi dalam K masing-masing.
·      Penulisan puisi lebih cepat
·      Hasil karya puisi siswa meningkat dan beragam.
4.    Refleksi
+     PK menimbulkan antusiasme bagi S.
+     Motivasi S meningkat dan berani mengutarakan ide.
+     Kata kunci yang ditulis guru dapat dikembangkan  tanpa kesulitan yang berarti.
-     Dengan satu kata kunci yang ditetapkan G dikhawatirkan membatasi kreasi berfikir S.
-     Masih ada S yang tergolong lamban kurang aktif dalam diskusi kelompok
5.    Perbaikan Rencana
Agar S dapat lebih berkreasi, dalam pengembangan PK kata kunci tidak lagi ditetapkan oleh G; tetapi dilakukan dalam kelompok (K).
                       
             Dalam Siklus II, siswa dibagi menjadi 4 kelompok yang kemudian masing-masing kelompok menyumbangkan ide melalui PK. Ketika saya memulai memberikan kata kunci SAWAH untuk dikembangkan melalui PK, siswa dapat mengembangkan ide tersebut tanpa banyak bantuan dari saya. Melalui observasi bisa dikatakan semua siswa dalam kelompok menyumbangkan ide-ide untuk mengembangkan PK berdasarkan kata kunci SAWAH. Walaupun yang lebih aktif masih didominasi siswa yang tergolong pandai, tetapi saya cukup bahagia melihat perkembangan bahwa tidak ada siswa yang hanya diam sebagai penonton saja.
Pengembangan  satu kata kunci oleh kelompok yang berbeda tersebut juga menghasilkan PK yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa PK dengan satu kata kunci dapat diterapkan pada siklus ini dan siswa merasa terbantu dalam memecahkan masalah atau kesulitan yang dihadapi. Sebagaimana yang terjadi pada Siklus I, pengembangan ide melalui kelompok juga dapat menghasilkan puisi yang lebih beragam dan diselesaikan siswa dalam waktu yang lebih. Yang dimaksud beragam dalam hal ini yakni siswa sudah berani menentukan tema, judul, menempatkan diksi sesuai peta konsep yang dikembangkan.
             Pengembangan ide melalui PK juga dapat menambah motivasi siswa. Hal ini terlihat dari suasana kelas yang walaupun ramai tetapi terfokus pada kegiatan mengembangkan ide, dan bukan pada kegiatan non-akademik yang biasanya terjadi sebelum PTK dilaksanakan.
             Namun demikian, dengan satu kata kunci yang ditetapkan guru, dikhawatirkan akan membatasi kreasi berfikir siswa dan menumbuhkan rasa ketergantungan yang tinggi. Siswa yang mempunyai inspirasi yang tinggi mempunyai andil besar dalam mengembangkan ide dalam kelompok. Akan tetapi siswa yang kurang pandai akan semakin tertinggal. Saya berharap agar setiap kelompok siswa dapat termotivasi untuk lebih kreatif mengembangkan ide dan memilih kata kunci sendiri.
             Dalam Siklus III, saya merencanakan tetap membagi siswa dalam 4 kelompok, yang kemudian masing-masing kelompok mengembangkan ide melalui PK, dengan pengembangan ide menggunakan kata kunci yang ditentukan sendiri dalam kelompok. Saya berharap semua siswa dalam kelompok itu dapat mengembangkan ide sesuai imajinasi yang mereka miliki. Pada Siklus II tersebut saya hanya menetapkan tema, yaitu LINGKUNGAN kemudian setiap kelompok memilih sendiri kata kunci untuk di kembangkan. Pelaksanaan dan pembahasan Siklus III dideskripsikan di bawah ini.

3. Siklus III
             Pada siklus terakhir atau Siklus III pengembangan ide melalui PK tetap dilaksanakan oleh kelompok tetapi mereka diberi kebebasan untuk memilih kata kunci sendiri berdasarkan tema yang ditetapkan guru, yaitu LINGKUNGAN. Secara ringkas pelaksanaan Siklus III dapat dilihat Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Pelaksanaan Siklus III
Siklus III: mengembangkan ide melalui PK berdasarkan kata kunci yang berbeda; secara berkelompok.
1.    Perenca-naan
·      G mempersiapkan RPP BI dengan materi puisi melalui pengembangan PK
·      G menyiapkan peralatan pengembangan PK dalam K: spidol berwarwa dan kertas HVS.
2.    Pelaksa-naan
·      Setelah G menawarkan, S setuju Lingkungan sebagai tema penulisan puisi.
·      Masing-masing K berdiskusi dan menentukan kata kunci untuk dikembangkan dalam PK
·      S menciptakan puisi berdasarkan kata kunci yang dikembangkan dalam PK masing-masing Knya.
3.    Observasi
·      Seperti pada siklus 1 dan 2, S menunjukkan ketertarikan dan bermotivasi tinggi dalam mengembangkan PK dan menulis puisi
·      S aktif berdiskusi dalam kelompok.
·      Puisi yang dihasilkan lebih bagus
·      Unsur-unsur pembangun puisi lebih jelas.
·      Semua K semakin terampil membuat PK
4.    Refleksi
+     PK memudahkan siswa menuangkan ide dalam penciptaan puisi.
+     PK mendorong minat siswa untuk menulis karya puisi yang lain.
-     Belum semua S secara individu terampil mengembangkan PK
5.    Perbaikan Rencana
PTK diakhiri sampai dengan siklus 3. Tetapi dalam pembelajaran BI, terutama penciptaan puisi selanjutnya direncanakan untuk diteruskan pengembangan ide melalui PK.
            
             Dalam Siklus III, kelas dibagi menjadi 4 kelompok yang kemudian tiap kelompok mengembangkan ide melalui PK. Untuk menumbuhkan kreatifitas siswa dalam menuangkan ide-ide bagi setiap kelompok, saya menentukan tema LINGKUNGAN. Dengan tema tersebut diharapkan dapat memilih kata kunci sendiri yang dapat dikembangkan menjadi PK oleh setiap kelompok. Berdasarkan satu tema LINGKUNGAN tersebut tumbuh kreasi berfikir siswa. Observasi kelas meunjukkan siswa dalam kelompok dapat  menentukan kata kunci sendiri dan tidak ada kesamaan dalam memilih kata kunci ketika saya bandingkan dengan kelompok yang lain. Setelah menentukan kata kunci, masing-masing kelompok aktif berdiskusi untuk membuat PK sesuai kata kunci yang telah disepakati. Proses penciptaan cipta puisi berdasarkan tema LINGKUNGAN dan kata kunci yang yang dipilih sendiri oleh tiap kelompok menghasilkan karya cipta puisi yang lebih bagus ketika saya bandingkan pada siklus-siklus sebelumnya. Hal ini dapat dilihat pada unsur-unsur instrinsik pembangun puisi lebih jelas (lihat Lampiran 6 – Lampiran 10).
             Wawancara saya dengan beberapa siswa pada kesempatan yang berbeda di dalam maupun di luar kelas menunjukkan sikap positif dari siswa terhadap PK.  Siswa HP mengakui penggunaan PK dapat memperkaya ide-ide dalam menciptakan puisi sehingga kesulitan Siswa Hastutik Mega Triana tersebut dalam mengembangkan ide penulisan puisi menjadi mudah: ”Sekarang kalo membuat puisi jadi lebih gampang Pak”. Contoh yang lain, Siswa Baskoro mengatakan kesenangannya terhadap PK yang menurutnya indah dan patut dipajang: ”Pak, PK kelompok saya mau saya warnai dan saya pajang. Bentuknya bagus ya pak”. Minat yang tinggi terhadap PK tidak terbatas pada pembelajaran puisi saja. Pada pelajaran menggambar, ada siswa bernama Ali Mustofa yang mengusulkan untuk menggambar PK saja: ”Pak, gimana kalo nggambarnya nggambar PK saja pak?”
            
4. Refleksi Akhir
             Secara umum tuga siklus yang dilaksanakan dalam PTK ini telah dapat mengatasi masalah yang dialami oleh siswa di kelas saya, yaitu kesulitan dalam mngembangan ide dalam penciptaan puisi. Peningkatan tersebut meliputi kecapan para siswa dalam penciptaan puisi yang ditengarai dari meningkatnya unsur-unsur puisi maupun suasana pembelajaran puisi di kelas (lihat bab II. C). Namun demikian, sebagai guru saya belum merasa puas terhadap perkembangan yang menggembirakan tersebut. Dari pengamatan KBM saya masih melihat belum semua siswa secara individu terampil mengembangkan PK. Hal ini mungkin juga disebabkan faktor diri dan lingkungan siswa. Kencerungan mencontoh yang selama ini dilakukan oleh siswa yang dapat menghambat kreatifitas di dalam penciptaan karya puisi.
            Untuk itu, sebagai tidak lanjut pembelajaran Bahasa Indonesia terutama penciptaan puisi, saya rencanakan untuk diteruskan pengembangan ide melalui PK dalam bentuk tugas terstruktur maupun tugas rumah yang dilakukan oleh siswa secara individu. Saya sudah memulai memberikan pekerjaan rumah kepada masing-masing siswa untuk membuat PK berdasarkan kata kunci pilihan siswa sendiri. Pekerjaan rumah itu diserahkan dalam satu minggu. Tetapi belum sampai seminggu berlalu sudah ada beberapa siswa yang menanyakan, ”Pak, PR-nya 
. Refleksi Akhir
             Secara umum tuga siklus yang dilaksanakan dalam PTK ini telah dapat mengatasi masalah yang dialami oleh siswa di kelas saya, yaitu kesulitan dalam mngembangan ide dalam penciptaan puisi. Peningkatan tersebut meliputi kecapan para siswa dalam penciptaan puisi yang ditengarai dari meningkatnya unsur-unsur puisi maupun suasana pembelajaran puisi di kelas (lihat bab II. C). Namun demikian, sebagai guru saya belum merasa puas terhadap perkembangan yang menggembirakan tersebut. Dari pengamatan KBM saya masih melihat belum semua siswa secara individu terampil mengembangkan PK. Hal ini mungkin juga disebabkan faktor diri dan lingkungan siswa. Kencerungan mencontoh yang selama ini dilakukan oleh siswa yang dapat menghambat kreatifitas di dalam penciptaan karya puisi.
             Untuk itu, sebagai tidak lanjut pembelajaran Bahasa Indonesia terutama penciptaan puisi, saya rencanakan untuk diteruskan pengembangan ide melalui PK dalam bentuk tugas terstruktur maupun tugas rumah yang dilakukan oleh siswa secara individu. Saya sudah memulai memberikan pekerjaan rumah kepada masing-masing siswa untuk membuat PK berdasarkan kata kunci pilihan siswa sendiri. Pekerjaan rumah itu diserahkan dalam satu minggu. Tetapi belum sampai seminggu berlalu sudah ada beberapa siswa yang menanyakan, ”Pak, PR-nya ditumpuk kapan?”  Pertanyaan siswa ini membahagiakan saya, karena hal tersebut menunjukkan antusiame siswa terhadap PK. Disamping itu, juga ada usulan dari siswa terhadap pembuatan, misalnya agar diperbolehkan membuat PK diatas kertas berwarna. Saya merencanakan, setelah menerima PR mereka, dan mengamati hasil pembuatan PK dan puisi berdasarkan ide-ide yang dikembangkan dalam PK tersebut, saya akan meyelenggarakan lomba pembuatan PK, penciptaan puisi, dilanjutkan dengan pembacaan puisi antar para siswa di kelas saya. Semoga rencana saya ini dapat semakin meningkatkan motivasi para siswa untuk lebih dapat menciptakan puisi dengan lebih mudah.

A.     Hasil Penelitian
             PTK ini merupakan usaha guru untuk memecahkan masalah kesulitan siswa mengembangkan ide dalam penciptaan puisi. Masalah tersebut dipecahkan dengan menggunakan PK sebagai alat untuk membantu siswa mengembangkan ide. Dalam pelaksanaan PTK melalui tiga siklus ini terlihat adanya peningkatan dan kemajuan yang dialami siswa. Pengingkatan tersebut meliputi dua hal utama, yaitu (1) kemampuan siswa menuangkan ide melalui PK; dan (2) suasana pembelajaran puisi dengan menerapkan PK. Temuan tersebut secara lebih rinci dirangkum dalam Tabel 4.5.
Tabel 4.5. Temuan PTK
A. Kemampuan siswa menuangkan ide
Sebelum PTK
Selama PTK
1.     Waktu menyelesaikan puisi: lama, dan tidak semua siswa menuntaskan puisinya
·      Lebih cepat.
·      Semua dapat menyelesaikan puisi.
·      Tidak lagi menunggu teman.
·      Siswa bisa mengontrol waktu.
2.     Judul puisi kurang bervariasi (lihat Lampiran 5)
·      Lebih bervariasi.
·      Siswa tidak lagi mencontoh.
·      Berkisar disekitar siswa.
·      Memanfaatkan situasi faktual.
·      Sesuai tema yang dikembangkan.
·      Singkat dan padat.
3.     Jumlah bait; baris dalam bait; dan kata dalam baris terbatas (lihat Lampiran 6, Lampiran 7, dan Lampiran 8)
·      Jumlah bait berambah
·      1 bait terdiri dari beberapa baris.
·      Jumlah baris 1 baik bertambah.
·      1 baris mempunyai banyak kata.
·      Pola kalimat mengandung makna.
·      Kata sesuai kedudukannya
4.     Diksi kurang tepat. (lihat Lampiran 10)
·      Diksi tepat.
·      Makna puitis.
·      Tidak ambiguitas.
·      Sesuai kontek.
·      Akrab, dan diterima semua usia
5.     Majas: jarang, cenderung seperti narasi (lihat Lampiran 9)
·      Menggunakan majas.
·      Bervariasi.
·      Menguatkan makna.
·      Padat isi
·      Sederhana mudah dimengerti



BAB V
PENUTUP

A.     Simpulan
            Penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan PK dalam pembelajaran puisis yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa menuangkan ide dalam penciptaan puisi. PTK yang diselesaikan dalam tiga siklus ini temuannya menunjukkan peningkatan pada kemampuan siswa dalam menuangkan ide yang berdampak pada meningkatnya kemampuan siswa dalam menciptakan puisi. Secara singkat PTK ini disimpulkan sebagai berikut.
1. Kemampuan siswa menuangkan ide
·  Meningkatnya waktu  untuk menyelesaikan puisi.
·  Semakin bervariasi judul puisi.
·  Bertambahnya jumlah kata, baris,  dan bait dalam puisi.
·  Bertambahnya diksi dalam puisi
·  Semakin bervariasinya majas dalam puisi.
2. Suasana pembelajaran puisi dengan menerapkan PK
·  Kegiatan siswa di kelas semakin terfokus pada pembelajaran puisi, bukan melakukan kegiatan non akademik lainnya.
·  Siswa semakin mandiri dalam menciptakan puisi, tidak mencontek puisi teman, atau mencontoh puisi yang sudah ada.
·  Suasana kelas hidup.
·  Kegiatan siswa di kelas semakin terfokus pada pembelajaran puisi, bukan melakukan kegiatan non akademik lainnya.

B.     Implikasi/rekomendasi
            Berdasarkan temuan di atas, PTK ini menunjukkan hasil yang baik dan menggembirakan dalam pembelajaran puisi, terutama meningkatkan kemampuan siswa menuangkan ide. Oleh karena itu, temuan PTK ini mengandung implikasi sekaligus rekomendasi sebagai berikut:
1.      PTK yang saya lakukan terbukti telah membantu saya dan siswa dalam masalah pembelajaran puisi. Karenanya, sudah selayaknya guru melaksanakan penelitian, khususnya PTK di kelas, terlebih lagi karakteristik PTK yang terfokus pada pemecahan masalah.
2.      Peta konsep sebagai alat untuk membantu cara berfikir yang terorganisir terbukti telah dapat memecahkan masalah yang dialami siswa saya, yaitu kesulitan menuangkanide. Melalui PTK ini juga ada indikasi bahwa PK juga sangat membantu untuk pelajaran mengarang. Dengan demikian semestinya PK dikuasai guru, bukan hanya diterapkan untuk siswa tetapi juga sebagai alat untuk menerangkan kepada siswa.
3.      Hasil puisi yang diciptakan siswa melalui PK ternyata lebih bagus dan bervariasi. Siswa juga merasa bangga terhadap hasil karyanya. Karenanya guru atau sekolah perlu menciptakan sara yang mendukung dan dapat mewadahi karya mereka, baik dalam pemajangan maupun bentuk kegiatan lain, seperti lomba.;
4.      Dalam melaksanakan PTK ini, saya mengalami bebarapa kendala yang memerlukan kolaborasi dengan narasumber lain. Oleh sebab itu guru perlu membangun jejaring untuk dapat memudahkan memperoleh kemudahan dalam melaksanakan PTK.

C.     Saran
            Berdasarkan temuan di atas disarankan agar para guru hendaknya menerapkan pembelajaran menggunakan PK agar penuangan ide terutama dalam pembelajaran puisi meningkat.

 DAFTAR PUSTAKA

Buzan, Toni. 2008. Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Departemen Pendidikan Nasional.2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Draf Jakarta.
Husin, M. 1999. Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran IPS sekolah dasar: penelitian tindakan kelas pada SD Negeri Isola II Bandung. Tersedia di: http://digilib.upi.edu/-pasca/available/etd-1018106-135352/
Khutobah, Misno A. Latief. 2006. Pembelajaran Menggunakan Peta Konsep untuk Meningkatkan Pemahaman Mahasiswa PGSD FKIP Universitas Jember pada Mata Kuliah PPKn. Tersedia di: http://www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/-sari_penelitian_ppkp-pips.pdf
Ramdani, Yani. 2004. Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Sekolah Menengah Umum Melalui Penyusunan Peta Konsep. Tersedia di: http://www.pagesyourfavorite.com/ppsupi/abstrak mat2004.html
Ratwiawan, Lindung. 1996. Bimbingan Menulis Puisi. Jakarta: Edumassa.
Sudjiman, Panuti (editor). 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.
Supriyadi, 2006. Pembelajaran Sastra yang Apresiatif dan Interaktif di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Direktorat Ketenagaan.
Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar