S E L A M A T D A T A N G

Kamis, 23 Mei 2013

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan karier



    

                      Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan karier

                Ada banyak hal yang perlu diperhatikan didalam perencanaan karier dimasa  depan , dari banyak hal tersebut antara lain adalah : 
                A. Pemahaman Minat
            Minat adalah : salah satu tanda kemantapan dan kesiapan seseorang untuk memilih cita-cita atau karier dengan adanya dorongn yang kuat dalam belajar, pekerjaan atau tugas-tugas yang dibebankannya. Minat sangat erat kaitannya atau hubungannya dengan perasaan suka atau tidk suka, tertarik atau tidak tertarik, senng atu tidak senng. Minat seseorang dapat berpengaruh pada pengambilan keputusan dalam merencanakan karier masa depan.

       B. Bakat (Aptitude)
             Bakat adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam waktu yang relative pendek dibandingkan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik. Contoh : seorang yang berbakat melukis akan lebih cepat mengerjakan pekerjaan lukisannya dibandingkan dengan seseorang yang kurang berbakat. Bakat juga merupakan potensi yang bakal diwujudkan dalam waktu yang akan datang. Ini berarti bahwa bakat hanya menunjukkan peluang saja, yakni peluang keberhasilan. Dengan kata lain bakat harus disemaikan, diwujudkan dan dikembangkan.
            Ada beberapa jenis bakat antara lain adalah : 1)Bakat verbal : Bakat tentang konsep-konsep yang diungkapkan dalam bentuk kata-kata. 2)Bakat numerical : Bakat tentang konsep-konsep dalam bentuk angka. 3)Bakat sekolastik : Kombinasi kata-kata dan angka-angka. 4)Bakat abstrak : Bakat yang bukan kata maupun angka tetapi berbentuk pola, rancangan, diagram,ukuran-ukuran, bentuk-bentuk dan posisi-posisinya. 5)Bakat mekanik : Bakat tentang prinsip-prinsip umum IPA, tata kerja mesin, perkakas, dan alat-alat lainnya. 6)Bakat relasi ruang : Bakat untuk mengamati, mencitrakan pola dua dimensi atau berfikir dalam 3 dimensi. 7)Bakat kecepatan ketelitian klerikal : Bakat tentang tugas tulis menulis, meramu untuk laboratorium, kantor dan lain sebagainya. 8)Bakat bahasa : bakat tentang penalaran analistis bahasa misalnya untuk jurnalistik, stenografi, penyiaran, editing,hukum, pramuniaga dan lain-lainnya.


      C.     Intelegensi (Potensi intelektual)
             Intelegensi (kecerdasan) merupakan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Intelegensi (kecerdasan) dapat dinyatakan juga sebagai kemampuan berfikir secara logis dan dapat diukur.
      D.  Prestasi Belajar
1.      Pengertian Belajar
                Menurut James O Wittaker dalam Wasty S (2006 : 104) belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman “Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience”.
                 Howard L Kings Ley dalam Wasty S (2006 : 104) belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training”.
                Cronbach dalam Wasty S (2006 : 104) belajar adalah perubahan tingkah laku  sebagai hasil dari pengalaman seseorang melalui pengalaman seseorang berinteraksi langsung dengan obyek belajar dengan menggunakan semua alat indranya. “Learning is shown by change in behavior as result of experience.”
         Ahmad Rohani (2004 : 19) belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan serta interaksinya dengan lingkungan. Menurut Martinus (2006 : 15) belajar adalah membangun pengetahuan baru, dengan menggunakan pengetahuan awal yang telah dimiliki.
           Sedangkan belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Bila disederhanakan anatomi konsep belajar mandiri terdiri dari kepemilikan kompetensi tertentu sebagai tujuan belajar, belajar aktif sebagai strategi belajar untuk mencapai tujuan, keberadaan motivasi belajar sebagai prasyarat berlangsungnya kegiatan belajar dan paradigm konstruktivisme sebagai landasan konsep.              
            Dari beberapa pendapat di atas dapat dirumuskan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang ditimbulkan sebagai akibat dari pengalaman, praktek, latihan  dan motivasi  sehingga   terbentuk     pola tingkah laku  yang  baru.
         Belajar adalah proses interaksi yang kompleks, yang dilakukan oleh siswa sebagai perilaku, belajar merupakan sebuah proses yang melibatkan seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan  psikomotorik. Proses belajar terjadi apabila anak berinteraksi dengan lingkungan yang  berupa manusia, benda atau hal-hal lain yang dapat dijadikan bahan belajar. Jadi anak yang belajar berarti menggunakan seluruh kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor  untuk merespon lingkungan.
             Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar manusia melakukan perubahan-perubahan sehingga tingkah lakunya berkembang. Aktivitas dan prestasi hidup manusia adalah hasil dari belajar. Manusia hidup menurut apa yang telah dipelajari, bertingkah laku sesuai dengan yang pernah dipelajarinya. Sedangkan belajar merupakan proses yang memerlukan keaktifan dan kreativitas manusia untuk dapat meningkatkan prestasinya dan tercapainya tujuannya (learning to goal).
               Belajar perlu ada faktor pendorong dan proses kematangan. Siswa sebagai anak didik sangat memerlukan adanya dorongan dalam hal belajar. Dorongan dari orang tuanya, arahan dan nasehat orang tua terhadap kemauan belajar anak didik sangat diperlukan. Sedangkan orang yang menciptakan kondisi keluarga yang harmonis dimana antara anggota keluarga tidak sering terjadi pertengkaran/percekcokan tentunya anak akan mau diarahkan untuk aktif, kreatif belajar, mendidik perlu adanya keikhlasan (Umar; 2007 : 118).
               Keikhlasan orang tua untuk dapat menahan hawa nafsu yang kurang baik demi dapatnya menjalankan kewajiban dan fungsinya didalam keluarga, sehingga dapat tercipta kondisi keluarga yang harmonis anak menjadi senang hidup dalam
keluarga yang harmonis. Situasi kondisi yang demikian tentunya dapat mempengaruhi perkembangan dan kreativitas anak didik. Bagi anak yang mau mengembangkan kreativitas belajarnya akan memperoleh prestasi yang baik (learning to achievement).
              Bagi orang tua yang sering bertengkar / bercekcok di dalam keluarga tentunya keluarga seperti tersebut situasi kondisinya dapat disebut sebagai situasi kondisi keluarga yang tidak harmonis. Dalam situasi kondisi keluarga yang tidak harmonis anak cenderung semaunya sendiri sulit untuk diarahkan orang tua, diantaranya sulit untuk diarahkan agar aktif, kreatif belajar.
               Orang tua dapat menumbuhkan kreativitas belajar anak sehingga anak dengan penuh kesadarannya ingin aktif selalu belajar dengan berbagai cara belajar seperti mengikuti les dan kursus agar memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan, hal demikian tentunya akan dapat meningkatkan kompetensinya sehingga dapat memungkinkan akan mendapatkan prestasi belajar yang baik.
                Tentunya untuk mengikuti kursus dibutuhkan biaya, oleh sebab itu keluarga yang ekonominya berkecukupan tentunya tidak merasa kesulitan membiayai anaknya untuk mengukuti kursus. Dengan mengikuti kursus anak akan berhadapan dengan sumber belajar yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan anak. Dalam rangka memanfaatkan sumber belajar memang perlu biaya, apakah ada biaya untuk pemanfaatan sumber belajar, hal ini perlu difikirkan ( Ahmad Rohani ; 2004 : 166 ).
                Bagi orang tua yang memberi perhatian penuh pada anaknya, dengan tulus ikhlas memelihara, mengarahkan, mendidik anaknya dan membiayai anaknya atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya tentunya anaknya dapat mengembangkan kreativitasnya. Sehingga dapat memungkinkan anak untuk mencapai prestasi belajar yang baik.


         2.  Prestasi Belajar  (Hasil Belajar)
            Sebenarnya keberhasilan belajar anak sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor selain faktor keluarga juga faktor intelegensi juga ikut mempengaruhinya, intelegensi sering didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman (Wasty S ;  2006 : 141) .Intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah, (Wasty S ; 2006 : 142). Intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari untuk menyesuaikan terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal atau untuk memecahkan masalah-masalah (Wasty S ; 2006 : 143).
            Menurut Wasty S (2006 : 164) tingkat kecerdasan (IQ) ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan fisik, penyesuaian diri dan prestasi. Dari pernyataan tersebut bahwa intelegensi (IQ) dapat mempengaruhi prestasi belajar atau hasil belajar.
            Kemauan belajar dan minat belajar, disertai dengan intelegensi yang baik serta dari lingkungan keluarga yang cukup baik dengan social ekonomi yang memadahi tentunya aka nada pengaruhnya terhadap prestasi belajar. Keberhasilan anak didik tidak semata- mata ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki tetapi juga ditentukan oleh minat perhatian dan motivasi belajarnya. (Ahmad Rohani ; 2004 : 170). Sering ditemukan peserta didik yang mempunyai kemampuan yang tinggi gagal dalam belajarnya disebabkan oleh kurangnya minat, perhatian dan motivasi untuk belajar.
  Kebiasaan belajar yang baik juga penting untuk meningkatkan prestasi belajar anak didik. Kebiasaan belajar yang baik dari segi cara belajar, waktu belajar, keteraturan belajar, suasana belajar merupakan faktor penunjang keberhasilan belajar peserta didik. (Ahmad Rohani ; 2004 : 170). Apalagi kebiasaan belajar yang baik ditinjau dari karakteristik peserta didiknya dan berasal dari latar belakang keluarga yang baik, suasana keluarga baik, sosial ekonomi keluarga cukup baik, hal demikian tentunya akan dapat semakin meningkatkan prestasi belajar peserta didik, karakteristik peserta didik mempengaruhi peserta didik dalam proses belajarnya (Ahmad Rohani ; 2004 : 171).
    Pada kenyataannya lingkungan sekolah juga ada pengaruhnya terhadap peningkatan prestasi belajar anak didik. Sekolah merupakan tempat aktivitas pendidikan dan pembelajaran/pengajaran yang tentunya diharapkan dapat memotivasi anak didik untuk aktif belajar.
 Pembelajaran/pengajaran merupakan aktivitas (proses) yang sistematis dan sistematik yang terdiri atas banyak komponen. Masing-masing komponen saling bergantung dan berkesinambungan, untuk itu perlu pengelolaan pengajaran yang baik (Ahmad Rohani ; 2004 : 1). Dengan pengelolaannya yang baik dapat mendorong anak didik aktif belajar karena pengelolaan pengajaran yan baik dapat meningkatkan minat, kemauan, motivasi, anak didik untuk melakukan aktivitas belajarnya.
Tugas dan tanggung jawab utama seorang guru/pengajar adalah mengelola pengajaran dengan lebih efektif, dinamis, efisien dan positif yang ditandai dengan adanya kesadaran dan keterlibatan aktif diantara guru/pengajar dengan anak didik, guru sebagai penginisiatif awal dan pengarah serta pembimbing, sedangkan anak didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan dari hasil pengajaran (Ahmad Rohani ; 2004 : 1).
 Pengelolaan pengajaran adalah mengacu pada suatu upaya untuk mengatur (manajemen, mengendalikan) aktivitas pengajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran untuk menyukseskan tujuan pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efisien dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan dengan penilaian. 
 guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar anak didik.
                 Pembentukan kelompok diskusi/kelompok belajar beranggotakan beberapa temannya di sekolah yang merupakan teman sebayanya tentunya juga aka nada pengaruhnya terhadap prestasi belajarnya.
                Fasilitas dan sarana prasarana yang ada di sekolah tentunya juga akan mempengaruhi prestasi belajar anak didik. Lingkungan masyarakat sekitar yang merupakan lingkungan tempat tinggal anak didik juga dapat mempengaruhi perkembangan karakteristik anak didik.
            Anak yang hidup di dalam lingkungan masyarakat yang baik dengan para tokoh masyarakatnya yang baik, serta banyaknya sumber belajar di masyarakat itu, tentunya anak akan mendapatkan pengaruh darinya, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
           Anak yang memiliki teman pergaulan di masyarakat dalam pergaulannya bergaul dengan teman sebayanya yang baik di masyarakat tentunya akan mendapatkan pengaruh yang baik pula dari teman sebayanya. Apalagi teman sebayanya adalah anak yang rajin belajar, hal itu tentunya akan dapat mempengaruhinya, sehingga menjadi rajin belajar yang dapat memungkinkan  meningkatkan   prestasi belajarnya, dengan demikian akan dapat pula meraih keberhasilan .                                                                                               
          Dengan kebiasaannya yang rajin belajar itu dapat memungkinkan meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan kebiasaan belajar yang baik, setiap usaha belajar selalu memberi hasil yang sangat memuaskan, ulangan, ujian akan dapat dilalui dengan berhasil .

                                                 



                                                         






 

            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar